31, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

Di Mata Presiden Jokowi, TGB dan Yusril Tidak Ada Apa-Apanya Dibandingkan Ahok

2 min read

JAKARTABERITATERKINI.co.id – Penunjukan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina memang mengejutkan banyak pihak.

Terlebih Ahok nyaris tidak berkeringat di Pilpres 2019 lalu untuk menenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Pada sisi lain, Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra dan eks Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGB Muhammad Zainul Majdi yang berjuang habis-habisan justru sampai saat ini belum mendapatkan tempat dalam kekuasaan Presiden Joko Widodo.

“Ukurannya bukan ‘berdarah-darah’ dalam pemilu, tapi faktor Jokowi. Apa sumbangan mereka kepada Jokowi,” ujar politik senior dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit di Jakarta, Jumat (29/11/2019).

Baca Juga :  *Menteri PPN Ikuti Rapat Kerja Dengan Pemprov Jawa Barat, Jabar Bagian Selatan Pelu Pembenahan*

Menurut dia, Ahok secara konsisten membantu Jokowi sejak sama-sama memimpin DKI Jakarta. Ahok menjadi wakil gubernur 2012-2014, dan setelah itu masih menjalankan kebijakan lama ketika Jokowi sudah menjadi presiden.

“Misalnya politik kartel, artinya megaproyek DKI yang dibiayai beberapa pemborong. DKI enggak bayar apa-apa tapi dapat barang baru, Jembatan Simpang Susun Semanggi misalnya,” kata Arbi.

Sementara TGB dan Yusril sumbangsihnya bagi Presiden Jokowi dianggap masih dibawah Ahok.

“Lebih besar sumbangsih Ahok kepada karier Jokowi,” ucap Arbi memberikan penilaiannya.

Dia juga menganalisis alasan lain yang membuat kedua sosok itu tak mendapat posisi apa pun sampai sejauh ini. Di samping faktor Jokowi, ternyata Yusril dan TGB juga tidak dipandang strategis oleh pihak berkepentingan di lingkaran kekuasaan saat ini.

Baca Juga :  Danlanal Cilacap Lepas Personelnya Yang Memasuki Usia Pensiun

Arbi mengatakan, semua pihak sudah tahu siapa Yusril atau TGB. Bagaimana untung ruginya dan imbal jasa apa yang bakal mereka terima jika mendorong dua orang itu menerima kedudukan penting. Dalam hitungan politik transaksional, Arbi melihat belum ada kecocokan keduanya dengan orang-orang kepercayaan Jokowi.

“Makanya enggak ada yang mau dorong,” kata Arbi. (AIJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *