TANGERANG – BERITATERKINI.co.id – Ketua Umum Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), Tubagus Rahmad Sukendar menyesalkan sikap pihak SMP Taruna Mandiri, Pamulang, Tangerang Selatan yang tidak mengizinkan dua siswanya mengikuti ujian akibat menunggak biaya sekolah yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah.

Sukendar mengatakan bahwa sekolah seharusnya tidak mengambil kebijakan sepihak yang berpotensi mengganggu psikologis dan perkembangan dua siswanya tersebut.

“Ini kan sebenarnya masalah sederhana. Menurut saya, melarang siswa tidak boleh ikut ujian sebab belum membayar kewajiban biaya sekolah sangat tidak etis. Pihak sekolah tidak boleh arogan,” kata Sukendar kepada Beritaterkini.co.id, Jumat, (06/12/2019),

Menurut Sukendar, orang tua siswa tersebut sudah menyerahkan surat tanah dan bangunan sebagai jaminan kepada pihak sekolah, agar anaknya diizinkan mengikuti ujian.

Baca Juga :  Presiden GANN Raden Dewi gumay Berbagi Masker, Hand Sanitizer dan Sembako di Yayasan Yatim Piatu 

“Artinya orang tua siswa sudah punya iktikad baik untuk membayar kewajiban biaya sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Tetapi, pihak sekolah justru mengabaikan itu,” tegas Sukendar.

“Seharusnya pihak sekolah dapat membantu mencari solusi bagi pemenuhan atas hak pendidikan terhadap siswa yang orang tuanya kurang memiliki kemampuan secara ekonomi,” sambung dia.

Apalagi imbuh dia, dua siswa tersebut merupakan siswa berprestasi yang mengharumkan nama sekolah dalam sejumlah kompetisi dan perlombaan.

“Seharusnya sekolah memberikan toleransi. Toleransi bukan berarti mengistimewakan. Tetapi memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengikuti ujian, sambil lalu orang tua mencari uang untuk melunasi biaya yang dibebankan sekolah,” sesal Sukendar.

Baca Juga :  MUI Kota Medan Berikan Tuntunan Ibadah Terkait Situasi Wabah Covid-19

Sukendar mengaku apa yang dilakukan pihak sekolah sangat bertentangan dengan nilai-nilai moralitas, dan berpotensi mengakibatkan dua siswa tersebut memiliki ‘penyakit’ mental.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dua siswa tersebut ke depan. Terlebih mereka termasuk siswa berprestasi. Sangat disesalkan,” Sukendar menambahkan.

Sukendar mengaku siap memfasilitasi untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak kembali terjadi di masa yang akan datang.

“Kita tentu tidak menghendaki masalah seperti ini kembali muncul di kemudian hari. Kasihan, jangan sampai siswa yang jadi korban. Karena masalah tersebut sejatinya bisa dibicarakan dengan baik-baik antara pihak sekolah dan orang tua siswa,” demikian tandas Sukendar.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here