JAKARTA – BERITATERKINI.co.id – Eks Ketua Umum PPP, M Romahurmuziy atau Romy kembali menjalani sidan lanjutan kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu, (19/12/2019).

Dalam persidangan itu, Jaksa KPK memutar kembali video CCTV detik-detik saat petugas KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Romy di Surabaya pada Jumat, 15 Maret 2019 lalu.

Namun video yang ditampilkan hanya perdebatan antara petugas KPK dan Romy. Karena hakim meminta agar video yang tidak ada hubungannya dengan OTT tidak perlu diputar.

Romy membenarkan bahwa memang ada petugas dari KPK yang menemui dirinya di hotel yang berada di Surabaya. Menurut Romy, ia sedang makan malam bersama sejumlah rekannya di PPP. Kemudian, ajudannya yang bernama Amin Nuryadin menghampirinya dan menyebut ada petugas KPK yang datang. Namun, Amin tak menyebut ‘petugas KPK’ secara langsung, dan menggunakan istilah ‘tamu penting’.

“Saya tegur dia (Amin), ‘Kamu enggak lihat, saya lagi rapat?’, saya bilang begitu. Tapi pandangannya tegang, terus mengatakan, ‘Pak, tamunya penting sekali’, sambil pandangannya tegang ke saya,” tutur Romy.

Baca Juga :  KPK Tuding Eks Gubernur Kepulauan Riau Terima Gratifikasi dari 33 Pengusaha dan Pejabat Daerah

Amin kemudian membawa Romy keluar dari restoran di hotel. Ia kemudian menyampaikan secara terang-terangan bahwa ada petugas KPK dan sudah menyita tas berisi uang yang diberikan eks Kanwil Kemenag Gresik, Muafaq Wirahadi.

Namun Romy berkilah dan seakan-akan tidak mengetahui soal pemberian tas berisi uang dari Muafaq Wirahadi.

Body bag apa? (tanya Romy ke Amin). ‘Body bag yang tadi dikasih Pak Muafaq’ (jawab Amin),” ungkap Romy.

Sesaat setelah percakapan itu, barulah petugas KPK menghampiri Romy. Romy mengakui, sempat ada perdebatan dengan petugas KPK tersebut, lantaran ia menolak untuk dibawa ke Jakarta dan dimintai keterangan. Namun, ia membantah ada aksi kejar-kejaran dengan petugas KPK saat itu.

“Ketika dia mengaku petugas KPK, saya tanya, mana identitasnya? Enggak ada. Dia tidak menunjukkan surat perintah penyelidikan, dia juga tidak bisa menunjukkan surat apa pun. Akhirnya saya refleks berjalan,” kata Romy.

Kemudian datang petugas KPK lainnya seraya menunjukkan identitas diri dan surat tugas penangkapan kepada Romy.

Dalam video CCTV yang ditunjukan Jaksa Penuntut KPK, Romy terlihat tengah berdebat dengan petugas KPK di dalam lift hotel. Setelah dari hotel, Romy mengaku sempat akan diborgol karena dianggap tidak kooperatif saat akan dibawa ke Jakarta.

Baca Juga :  Tak Terima Dituding Germo, Pejabat Garuda Ngadu ke Polisi

“Saya bilang tidak mau. Ngotot-ngotot di situ. Saya ngotot di situ, saya tidak mau. Dia (petugas KPK) ngotot (bilang) harus mau, dan seterusnya,” kata Romy.

“Singkat cerita, tangan saya sudah dimasukin borgol plastik itu. Saya melawan. Dia (petugas KPK) bilang, ‘Saudara tidak kooperatif’. ‘Lho, saya ini masih orang merdeka, saya anggota DPR, saya pimpinan partai politik’,” sambungnya.

Akhirnya, Romy dibawa ke Polda Jawa Timur untuk dilakukan pemeriksaan awal disana.

“Mungkin (saat itu) ada Amin juga,” tutup Romy.

Dalam kasus ini, Romy didakwa menerima suap bersama eks Menag Lukman Hakim Saifuddin sebesar Rp 325 juta dari Haris Hasanuddin.

Selain itu, Romy juga didakwa menerima suap Rp 91,4 juta dari eks Kanwil Kemenag Gresik Muhammad Muafaq. Suap diduga terkait jual beli jabatan di lingkungan Kemenag.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here