28, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

Miris! Diduga Asal-Asalan, Proyek Jalan di Desa Montorna Sumenep Banyak yang Rusak

2 min read

SUMENEP – BERITATERKINI.co.id – Proyek pengaspalan jalan di Dusun Tanunggul, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep yang baru selesai dikerjakan beberapa hari yang lalu sudah banyak yang rusak.

Proyek yang dilaksanakan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Rosak Onggo melalui Dana Hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2019 itu, diduga banyak penyimpangan dan tidak sesuai spesifikasi.

Bahkan di beberapa bagian aspal sudah mengelupas, dan ketika dilalui kendaraan roda empat jalan amblas sampai beberapa centimeter yang menunjukkan bahwa kontruksi jalan tidak dikerjakan dengan benar.

Selain itu, dalam prasasti proyek juga tidak dijelaskan berapa anggaran yang digunakan untuk proyek pengaspalan jalan, serta volume kegiatan.

Baca Juga :  Pilkada Bersih, Dang Ike Minta Bawaslu Tindak Tegas Pelanggaran Pilkada

Padahal berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 perubahan kedua atas Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah mensyaratkan bahwa semua kegiatan fisik dan non fisik harus memasang plang nama yang salah satunya harus memuat anggaran dan volume proyek.

“Sejak awal saya menduga bahwa memang banyak penyimpangan dalam pelaksanaan proyek pengaspalan tersebut. Terbukti sekarang di beberapa bagian aspal sudah rusak,” kata salah satu warga kepada Beritaterkini.co.id sembari meminta identitasnya tidak disebutkan pada Sabtu, (25/01/2020).

Baca Juga :  TEC Kembali Berikan Bantuan Sembako IIPG Untuk Warga Lampung Selatan

Menurut dia, berdasarkan pantauan dirinya kegiatan pengerjaan diduga dikerjakan asal selesai.

“Lazimnya proyek pengaspalan jalan yang dilakukan Pokmas diduga memang sarat masalah. Sehingga kami sangat menyesalkan uang negara justru tidak bisa digunakan dengan baik,” sambung dia.

Selama ini tegasnya, Pokmas memang sering melakukan pembangunan infrastruktur salah satu berupa pengaspalan jalan.

“Karena orientasinya bukan pemberdayaan. Tapi proyek. Akibatnya, yang dipikirkan yang keuntungan, bukan asas kebermanfaatan bagi masyarakat,” demikian tandas dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *