Kolom

ADAKAH HIKMAH DIBALIK MUSIBAH CORONA VIRUS DISEASE-2019

JAKARTA, BERITATERKINI.CO.ID |

Oleh : Prof. Dr.Ir.H. Koesmawan, M.Sc.MBA,DBA (Mang Engkoes)

Guru Besar Institute of Technology and Business Ahmad Dahlan Jakarta

Bila terjadi musibah, maka orang beriman berkata, “ Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiuun” (Sesungguhnya Bagi Allah, dan sesungguhnya kepada Allah, semua kembali). Apakah Allah Menciptakan COVID-19, alias Coronavirus-Disease Tahun 2019, penyakit ini disebabkan infeksi virus Severe Acute Respiratory Syndrome coronavirus-2 (SARS-Cov-2) -itu dengan sia-sia.

Orang berpikir (ulil albab) akan berkata, “ Robbana Maa Kholakta Hadzaa Baatilaa”. Tuhanku, sungguh ciptaanmu tidak sia-sia. Sering dalam kehidupan, kalua ada yang tertimpa musibah, maka nasehat kita ialah, “ Bersabarlah kawan, In Shaa Allah pasti ada hikmah yang dapat kita ambil didalamnya”. Kesanalah, postingan Mang Engkoes diarahkan.

Guru besarku, alm K.H Dalari Umar, memberi contoh tidak sia-sia semua ciptaan Allah, misalnya nyamuk. Kalau nyamuk dicabut Allah dari muka bumi, bisa dibayangkan, semua pabrik obat nyamuk didunia akan tutup dan jutaan orang akan menganggur.

Jadi semua ciptaan Allah itu tidak sia-sia. Guruku Imaduddin pernah ceramah. Allah SWT Menciptakan syeiton, juga tidak sia-sia, karena syieton ibarat gaya gesek berlawanan arah, dengan ada gaya lawan, mobil-pun maju. Coba ambil mobil-mobilan, putarkan bannya, lalu angkat ke atas, pasti tidak maju, karena tak ada gaya lawan. Jadi manusia beriman, dengan adanya syeiton, ada lawan, maka dia akan semakin berhasil melawan syieton sebagai adduwwummmubin (musuh yang nyata), maka orang ini, semakin berhasil meningkatkan takwanya (Laalakum Tattakuun). Ingat, Inna Akromakum Indallohi Attokuum (Sesungguhnya yang dekat disisi Allah ialah mereka yang paling bertaqwa). Jadi takwa adalah nilai optimal kualitas disisi ALLAH.

Menurut mang Engkoes, ada beberapa butir hikmah dibalik COVID-19 yang kini menjadi perbincangan hangat disekitar kita:

_1.BERTAMBAH PEMAHAMAN KESEHATAN._

Tak terbayang sibuknya para ahli kedokteran, ahli kesehatan, serta ahli-ahli ilmu yang relevan untuk membahas ilmu-ilmu yang relevan dengan Corona.

Bahkan mang Engkoes jadi tahu apa itu “ Social Distancing”, SARS, ODP, PDP, Karantina, Isolasi, Lockdown, epidemi, pandemic dan endemic, self limiting, superspreader. Dan lain-lain. Saya baca makin banyak ilmu yang didapat. Termasuk mengajar jarak jauh, plus rapat pake video call. Ah pokoknya, hidup semakin indah rasanya. Hanya saja, duit agak tekor, sementara tagihan Kartu kredit, KTA tidak cuti. Saran, harusnya tagihan juga cuti dong. Ada yg setuju.

_2. JADI SERING KUMPUL DENGAN ISTRI ._

Mang Engkoes selalu jauh terpisah dengan istri, anak dan cucu. Kini mau dua minggu kumpul terus. Benar kata anak-anak muda, “ Virus Corona Negatif, Istri Positif” ah itu mah anak muda saya amah sudah aki-aki. Hampir tipa hari setiap malam Bersama istri di kasur, apaan coba ? Maen HP dan balas WhatsApp. Alhamduilah, walau tak semua, ada anak dan cucu di rumah. Jadi tak terlalu sepi, walau tinggal di rumah terus, minimal dua Minggu rencananya (14 hari). Semoga lewat 14 hari. Hilanglah Covid-19 itu.

_3. SALING BANTU TANPA LIHAT SARA._

(Suku-Agama-Ras-Antar golongan).
Ingat kata Gus Dur, sambil becanda, “Baginda Nabi SAW, mengajarkan kepada umatnya, jadilah Rahmatan Lil alamiin, Penyayang Seluruh alam, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Jadi waktu menolong jangan tanya, eh kamu orang Sunda bukan. Eh kamu agamanya apa. Eh kamu anak Partai PPP bukan atau Eh Kamu Golongan PERSIB Bandung bukan?. Tak perlu bertanya itu”. Artinya siapapun yang di depan kita dan wajib kita tolong segera tolonglah. Saya melihat, semua warga Bangsa ini prihatin.

Bahkan professor Quraisy Shihab berkata, “ Ketika masalah kemanusiaan di depan mata, maka agama boleh dinomor duakan”. Fatwa MUI, agar Jangan Shalat Jumat di Masjid. Silahkan Ganti Shalat Dzhuhur di rumah. Kalau pikiran kita sempit, “ Kok perintah agama di nomor duakan? “ Bukan begini cara berpikirnya.

Tapi seperti ini, Fatwa itu, tidak menyuruh kita Jauh dari Allah, akan tetapi harus lebih dekat ALLAH dengan Mencintai diri sendiri agar tak tertular dan menjaga orang lain jangan kita tular. Subhanallah. Indah sekai ajaran Islam. Bahkan seluruh Organisasi Muslim satu suara. Dukung Fatwa, agar Dilarang keluar Rumah kalau tak penting sekali.

_4. TIDAK SALING SALAHKAN._

Saya tak mendengar atau melihat COVID-19 ini salah Pemerintah, atau salah orang lain dan sebagainya. Bagi orang-orang berpikir, kalau sudah bencana, jangan saling salahkan.

Lebih baik cari jalan keluar dan saling bantu. Jangan memperkeruh keadaan, orang lagi susah. Apalagi menyalahkan Pemerintah, lambatlah, inilah, itulah. Jangan, Jangan. Mari kita Bersama-sama prihatin. Ini benar-benar suatu hal yang aneh dan tak terduga. Bayangkan itu virus, gimana bisa kok menyebar ke 161 negara.
Lalu menyebakan terbunuhnya para petugas medis, yang memilukan Dr. Hadio, umur 34 Tahun, dua anak tercinta harus ditinggalkan karena tugas dan akhirnya “kena”. Masya Allah. Semoga dokter muda ini Mati Syahid. Aamiin Allohuma Aamiin.

_5. KESADARAN MASYARAKAT MAKIN TINGGI._

Alhamdulillah, kesadaran Masyarakat semakin tinggi, tentang saling bantu, tentang perhatian kepada Pemerintah, tentang jasa para medis selaku garda terdepan.

Kepada Tentara, kepada Polisi dan petugas Negara. Saya sangat setuju bahwa tenaga para medis termasuk para dokter yang meninggal atau GUGUR karena tugas adalah garda terdepan. Namun tentunya, jangan pula dianggap enteng peran supir ambulan, peran para satpam, peran tukang parkir yang mengatur semua transportasi. Juga peran ibu kantin yang memberi para petugas makan, sebab kalau tak makan bagaimana bisa melanjutkan hidup.

Kesimpulan, dengan tetap menghormati para petugas medis, selalu garda terdepan. Maka siapapun semua-semua, termasuk wartawan yang menginfokan data-data berharga juga berjasa. Semoga Allah SWT Membalas semua kebaikkan, semua yang berjasa menolong korban COVID-19. AAMIIN.

Demikianlah lima hal butir-butir Hikmah Dibalik Covid-19. Bila ada teman yang bisa menambahkan, tolong tambahkanlah. Sehingga, kita semua, sabar, tabah dan ceria menghadapi semua ini. /Beritaterkini

Kontributor ; Ichwan Aridanu, S.Pd, M.Pd.

Editor ; Seno

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: