27, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

Bersatu tidak Selamanya Harus Berkumpul.

3 min read

JAKARTA, BERITATERKINI.CO.IDSuatu saat, di awal dekade 90-an, saat penulis masih aktif di gerakan mahasiswa, Gus Dur pernah bilang bahwa “Bersatu tidak selamanya harus berkumpul”. Pernyataan itu disampaikan ketika Gus Dur meninggalkan penulis di suatu makam untuk “disembunyikan” sehingga harus berpisah dengan teman-teman aktivis beberapa waktu.

Kata-kata itu sederhana, tapi secara sosiologis dan strategis memiliki makna yang luas dan dalam. Ya, berkumpul dan bersatu memang dua hal yang berbeda meski kelihatan saling berhubungan. Orang yang berkumpul tidak mesti bersatu. Banyak contoh orang berkumpul tapi tidak bersatu. Misalnya, orang berjudi. Mereka berkumpul dalam satu meja tapi tidak bersatu, mereka berusaha saling mengalahkan agar bisa mengambil keuntungan dari pihak lain.
Demikian sebaliknya, kadang kita harus berpisah untuk tetap bisa bersatu. Misalnya para pejuang yang dituntut harus berpisah dengan keluarga, kerabat dan sahabat demi mempertahankan dan menjaga persatuan diantara mereka. Meski secara fisik mereka tidak berkumpul, terpisahkan jarak, namun mereka tetap bersatu dalam ikatan tekad, cita-cita, komitmen dan rasa yang menautkan hati dan jiwa .
Berkumpul terkait dengan aspek fisik (badaniah), sementara bersatu terkait dengan aspek rasa, jiwa dan hati (ruhaniyah) yang direfleksikan dalam tekad, cita-cita dan komitmen.

Seseorang yang berjiwa besar, memiliki cita-cita besar akan semakin mudah mudah untuk bersatu, baik berkumpul maupun tidak. Karena jiwa dan cita-citanya telah melampaui kondisi fisik. Seorang politisi, pebisnis dan pemimpin masyarakat akan dengan mudah membangun persatuan meski mereka tidak saling berkumpul. Mereka saling bisa memahami dan menyesuaikan diri meski terhalang jarak, karena mereka bersatu.

Baca Juga :  TIDAK ADA YANG SEMPURNA

Demikian sebaliknya, meskipun mereka berada dalam satu partai, satu komisi, satu organisasi dan satu kelompok bisnis, jika jiwa mereka kerdil dan sempit maka akan mudah pecah, sehingga sulit bersatu. Meski mereka berkumpul setiap hari, namun mereka tidak bersatu karena hati dan jiwa mereka tidak bersatu. Justru mereka saling menikam, saling memangsa dan saling menjatuhkan meski berkumpul dalam tempat dan wadah yang sama.
Memghadapi penyebaran wabah virus Corona saat ini, penulis jadi teringat pernyataan Gus Dur mengenai perkumpul dan bersatu. Ketika ada anjuran menjaga jarak fisik (physical distance) dan menghindari kerumunan untuk melawan penyebaran wabah Corona, maka sebenarnya hal ini sama sekali tidak terkait dengan persatuan. Anjuran jaga jarak dan hindari kerumunan justru bisa menjadi indikator mengukur soliditas masyarakat.

Dalam masyarakat yang solid, penyebaran wabah Covid-19 yang membuat mereka tidak berkumpul justru melahirkan berbagai gerakan yang memperkuat persatuan di antara mereka. Hal ini terlihat dari munculnya para relawan, tenaga medis dan berbagai gerakan kemamusiaan lainnya yang melakukan berbagai kegiatan melawan virus Corona secara bersama sama, meski mereka tidak berkumpul.
Sebaliknya, dalam masyarakat yang retak, tidak bersatu (fragile) maka akan menjadikan ancaman wabah Corona sebagai sarana mengambil keuntungan material dan politik untuk memenuhi kepentingannya. Bahkan mereka tidak segan-segan mengekploitasi semangat berkumpul masyarakat demi ambisi pribadi. Mereka melakukan propaganda bahwa berkumpul adalah sesuatu yang penting untuk menjaga persatuan dan syiar agama sehingga harus dipertahankan meski harus mananggung risiko tertular penyakit.

Baca Juga :  KRISIS COVID-19: MANUSIA PERLU INTROSPEKSI DIRI UNTUK MENCAPAI KESADARAN DALAM DIRI

Merujuk pada pernyataan, tepatnya nasihat Gus Dur, di atas maka inilah saatnya kita melakukan strategi berpisah/tidak berkumpul namun tetap bersatu dalam menghadapi penyebaran wabah Corona. Rasanya sudah sekian lama kita berkumpul dan berkerumun namun ternyata tidak bersatu. Karena banyak di antara kita yang justru saling mencaci dan menghujat dalam kerumunan yang sama.

Barangkalidengan adanya virus Corona yang memaksa kita berjarak secara fisik dan menghindari kerumunan ini bisa menjadi momentum untuk melakukan muhasabah dan tafakkur setelah kita disibukkan dalam kerumunan yang justru membuat kita terasing. /Beritaterkini

Sumber opini ; watyutink.com #GusDurHubbulWathonMinalIman

Pada Kamis, 2 April 2020

Editor ; Seno 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *