27, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

Solidaritas Bersama Menghadapi Wabah Covid-19

4 min read

Oleh: Dr. Ir. H. Tengku Erry Nuradi, M.Si (Gubernur Sumatera Utara yang ke -17)

Seluruh negara di dunia, kini memiliki musuh yang sama, yaitu wabah COVID-19. Virus ini muncul pertama kali di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019. Dan oleh WHO ditetapkan sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020.

Tak seorang pun bisa memprediksi, wabah COVID-19 ini begitu cepat menular kepada orang lain. Banyak orang berjatuhan akibat serangan wabah ini. Di tempat-tempat umum di kota Wuhan kita menyaksikan banyak orang yang meninggal. Dan kota itupun lumpuh total.

Tak butuh waktu lama, wabah ini begitu cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Saat ini tercatat 208 negara yang telah diserang oleh wabah ini. Dunia pun tampak ”lumpuh” dengan serangan virus yang sangat dahsyat ini. Dan tak satupun negara yang siap menghadapi virus yang telah banyak menelan korban jiwa ini. Dalam waktu hanya empat bulan, tepatnya per tanggal 9 April 2020 menurut data dari Universitas Johns Hopkins telah tercatat kasus covid-19 mencapai 1.485.981 di seluruh dunia, dengan jumlah kematian sebanyak 88.538 jiwa.

China pun pada awal-awal serangan wabah ini, tampak gurup dan kurang siap. Namun dengan sistem negara yang otoritarian –dimana masyarakat sangat patuh kepada pimpinannya, dan sumber dayanya yang cukup memadai, mereka menerapkan kebijakan lockdown. Setelah satu bulan ”mengunci” negaranya, China secara perlahan berhasil melawan wabah COVID-19. Kehidupan di kota Wuhan telah ramai kembali. Namun petaka bagi negara-negara lain yang gagal dalam melawan virus ini.

Belajar dari Kegagalan Negara Lain

Italia memberlakukan kebijakan lockdown, tapi yang terjadi wabah virus menyerang dengan cepatnya sehingga ratusan ribu warganya terpapar, dan ribuan warganya tewas dalam beberapa minggu saja. Begitu juga dengan Spanyol dan Perancis yang juga gagal menerapkan kebijakan lockdown. India salah satu negara berkembang juga blunder dengan kebijakan lockdown-nya. Alih-alih memutus mata rantai virus, malah yang terjadi sebaliknya. Ratusan ribu bahkan hampir jutaan pekerja migran kelaparan, panik, dan eksodus pulang ke desa, karena khawatir mati kelaparan bila tetap bertahan di kota. Banyak dari mereka menempuh ratusan kilometer berjalan kaki menuju desanya. Tidak sedikit yang meninggal di jalan karena kecapekan, kurang makan dan karena sakit.

Baca Juga :  BERBAGI KISAH MENJALANI ISOLASI MANDIRI COVID-19

Amerika Serikat (AS) sang negara adidaya juga tak berdaya melawan wabah Covid-19 ini. Kebijakan lockdown yang dilakukannya juga mengalami kegagalan. Ratusan ribu warga AS telah terpapar virus ini, dan ribuan orang dilaporkan meninggal dunia. Kegagalan AS ini yang kemudian membuat Donald Trump ”menyerah” dan meminta bantuan kepada China yang selama ini menjadi ”musuh” bebuyutannya.

Terbaru dan sangat mengenaskan terjadi di negara Equador, benua Amerika Latin. Mayat-mayat akibat wabah Covid-19 diletakkan di pinggir jalan-jalan dengan hanya dibungkus kain, plastik dan kardus, berharap pemerintah mengambil dan memakamkannya. Tidak sedikit dari mayat-mayat itu yang sudah membusuk karena pemerintah terlambat mengambilnya, mengingat ratusan mayat yang harus diambilnya. Dan suasana kota pun pun tampak begitu horor dan mencekam.

Belajar dari banyak negara yang gagal dalam menerapkan kebijakan lockdown, Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Jokowi sangat hati-hati dalam membuat kebijakan dalam penanggulangan wabah Covid-19. Saya paham betul kenapa Pak Jokowi begitu sangat berhati-hati. Rakyat Indonesia itu banyak, 267 juta jiwa, beragam kondisi status ekonomi dan sosialnya. Banyak rakyat yang kurang mampu, dan mengandalkan kerja harian untuk memenuhi kebutuhan makannya.

Tentu pak Jokowi menghadapi banyak tekanan dari berbagai pihak maupun lawan-lawan politiknya. Berbagai ahli atau pakar kesehatan, asosiasi profesi, kelompok oposisi, para influencer, dan mungkin dari pihak internalnya sendiri, menyuarakan agar Indonesia segera memberlakukan lockdown. Namun dengan sikap tenang dan jernih, Pak Jokowi tetap bersikukuh tidak mau menerapkan kebijakan lokcdown tersebut.

Awalnya pak presiden menyampaikan kebijakan social distancing, yang kemudian ditindaklanjuti dengan physical distancing merujuk pada himbauan WHO. Dan dalam rangka percepatan penanganan wabah Covid-19 yang lebih luas, Presiden Jokowi baru-baru ini mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Melalui kebijakan ini transportasi umum dibatasi, kendaran pribadi juga dibatasi hanya untuk keperluan untuk mencari logistik, semua orang wajib mengenakan masker bila diluar rumah, menutup tempat-tempat keramaian, cafe-cafe, tempat hiburan, tempat wisata, dan ojek online tetap beroperasi dengan catatan tidak membawa penumpang, dan hanya untuk mengantarkan barang. Pertemuan-pertemuan pun dibatasi, hanya maksimal 5 orang dengan tetap menggunakan standart protokol.

Baca Juga :  Erry Nuradi Ajak Masyarakat Banyak Membaca di Rumah

Pentingnya Solidaritas Bersama

Virus ini menyerang kepada siapa saja, tidak mengenal suku, ras, agama, maupun status sosial. Wabah ini telah menjadi musuh bersama bangsa dan juga dunia. Sekalipun pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin, tetap saja pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan dukungan dan solidaritas dari banyak pihak dan utamanya masyarakat luas, agar perjuangan melawan Covid-19 ini dapat dimenangkan.

Semangat dan nilai gotong royong yang telah diwariskan oleh leluhur kita, dapat menjadi alat untuk membangun solidaritas secara bersama dalam menanggulangi wabah covid-19 ini. Tak perlu banyak mengkritik pemerintah atau menyalahkan pihak-pihak lain dalam situasi seperti ini. Cukup saja patuhi kebijakan dan himbauan dari pemerintah. Semua tokoh, kelompok, komunitas, ormas dan masyarakat di kampung, di kota diharapkan bahu membahu secara bersama untuk berjuang sekuat tenaga. Posko-posko penanggulangan wabah Covid -19 didirikan hingga ke tingkat struktur masyarakat yang terkecil, yaitu desa, kampung, dusun, hingga RT.

Saatnya kita semua pihak bergandeng tangan membangun solidaritas bersama untuk melawan wabah ini. Tanpa solidaritas yang nyata, kita akan sangat sulit keluar dari krisis kesehatan yang dapat berujung pada krisis ekonomi dan krisis sosial. Mari kita kesampingkan egosentrisme pribadi dan kelompok, dengan hati yang jernih dan semangat gotong royong kita lawan virus ini secara bersama-sama. InsyaAllah kita akan menang..!

(M-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *