Dulu saya pernah menulis tentang “jebakan-jebakan milenial” dan sekarang terbukti bahwa menempatkan mereka pada posisi kekuasaan akan menjadi “kutu dalam sisiran rambut”.

Jokowi terlalu terpesona oleh portofolio mereka sebagai sosok yang terhubung dengan kecerdasan buatan global. Hampir tidak ada staf khusus milen yang punya tapak dalam isu sosial yang lebih riil, yang “sedikit kumuh” dan punya project yang tidak dihitung oleh algoritme matematis, tetapi oleh kesadaran historis.

Baca Juga :  AYAT-AYAT UNTUK MENGAWAL SEBUAH KEPUTUSAN KITA

Jika menggunakan standar usia, kurang “milenial” apa Agus Salim, Natsir, Bung Karno, Sjahrir, Hatta dan para “pemuda pemberontak” lainnya. Satu perbedaan mencolok mereka dengan milienial ini hari adalah soal kepada siapa mereka berkiblat dan bersekutu.

Para tokoh muda pendobrak zaman itu membangun persekutuan permanen dengan dunia sosialnya yang remuk redam oleh eksploitasi dunia luar. Mungkin sekarang sebaliknya, dimana milenial dibawa ke istana sebagai kelas sosial untuk menjadi hubungan bagi bekerjanya modal.

Maka bukan hanya jarak historis yang jauh dengan milenial istana yang saat ini lagi heboh, mereka juga punya jarak etik dan jarak moral yang menganga. Teramat menyakitkan di tengah pageblug Covid 19 ini ada yang petantang-petenteng “nyari margin keuntungan proyek” dengan selembar surat berkop istana atau lewat acara televisi, memasang profil gagah sebagai pegawai yang posisinya “setara dengan Menteri”.

Baca Juga :  Berdana, Berdata, Berdaya

Bro dan sis, cara produksi start up pastilah beda dengan cara mengurus dan mencintai negeri ini.

(M-01)