28, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

Terkait Isu Reshuffle Kabinet, Mathla’ul Anwar Sumut Menolak Menag Direshuffle

2 min read

Foto: Suasana Unras (dok.BT)

MEDAN – BERITATERKINI.CO.ID – Sebagaimana diketahui, pasca beredarnya video kemarahan Presiden muncul beragam spekulasi dari pengamat dan politisi terkait reshuffle Menteri. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pernyataan Syafiq Syauqi, ketua GP Anshor PW Jawa Timur bahwa diantara yang patut di reshuffle adalah Menteri Agama.

Mathla’ul Anwar Sumut, dalam dalam hal ini diwakili oleh Drs. H. Taufiq Lubis, ketua PD Mathalul Anwar Deli Serdang yang didampingi sekretarisnya Ahmad Fauzi, S.Pdi menolak tuntutan reshuffle itu.

Senada dengan penolakan PCI Pandeglang Mathla’ul Anwar, Taufiq menilai pernyataan Syafiq itu insinuatif dan halusinatif.

“Kita sejalan dengan pernyataan pak Zainal Muttaqin, wakil panglima PCI Pandeglang Mathla’ul Anwar yang bilang kalau pernyataan itu insinuatif dan halusinatif sebab sepanjang pidatonya Presiden tidak ada menyinggung masalah kementerian agama. Jelas kok, fokus pidatonya adalah masalah penanganan Covid-19”. kata taufiq.

Baca Juga :  DPP PARTAI GOLKAR SALURKAN BANTUAN 10.000 APD UNTUK GERAKAN PEDULI COVID-19

Taufiq mengingatkan bahwa pendiriannya itu bukan hanya karena satu ormas, tapi didasarkan oleh pandangan yang objektif.

“Tapi ingat ya, perlu dicatat, dukungan ini bukan hanya karena satu ormas, tapi ini objektif, karena secara nalar pernyataan itu juga tidak dapat diterima karena terlalu tendensius, dan jatuh pada Suudzon.”
Lebih jauh, Taufiq juga menegaskan “agar berfikir dan bertindak proporsional” dalam merespon kemarahan presiden itu.

“Tak perlulah kita tuduhkan resfhufle menteri itu…ke menag, kita harus proporsional karena seperti yang sudah dijelaskan oleh pak Zainal, reshuffle itu hak preogratif Presiden, jadi jangan ada kesan mendikte presiden.” Tegas Taufiq.

Baca Juga :  Anggota DPRD Sumut dari Fraksi Golkar yang Meninggal Dinyatakan Positif Covid-19

Tentu sebagai elit ormas Islam, dalam sistem ketatanegaraan, kita hanya menilai apa yang tampak dari pernyataan Presiden. Secara positif, kemarahan presiden adalah permintaan kepala Negara agar para menterinya berkerja extra-ordinari di masa pandemic saat ini.

“Kemarahan itu kan agar para Menterinya bekerja lebih keras, tidak seperti biasa di masa normal, jadi ya itu saja, nggak usah jauh-jauh menilai, bahkan terkesan melampaui presiden jadinya.”pungkas Taufiq.

(M-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *