27, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

Jacob Ereste : Klinik Hukum Merdeka Rumah Persalinan Kebersamaan  Beragam Aktivis

3 min read

BANTEN, WWW.BERITATERKINI.CO.ID
Semakin banyak kelompok pergerakan dibuat, semakin meyakinkan apa yang hendak dicapai untuk menyelamat bangsa dan negara dari keambrukan jadi sulit tercapai.

Yang terjadi justru kesan kegaduhan dan kesemrautan dari pola gerakan yang tidak vokus dan tidak mengerucut pada satu tujuan dengan derap langkah serta gerakan bersama yang kompak dan solid. Polarisasi gerakan seperti yang sudah lama terjadi seperti itu persis seperti yang berlangsung di kalangan buruh dan serikat buruh di Indonesia.

Istilah yang sering diucapkan Benny Akbar Fatah adalah semacam lomba balap karung yang membudaya seperti untuk memeriahkan acara perayaan tujuhbelasan pada setiap kali menyambut hari peringaran kemerdekaan RI.

Ketika KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) dimaklumatkan, tak hanya komentar miring yang muncul dan gaduh berseliwer di media sosial, tapi juga kelompok atau semacam fraksi lain pun tampil mendeklarasikan diri dengan visi dan missinya masing-masing. Meski semuanya mengklaim untuk memperbaiki carut marut negeri ini.

Dalam menyikapi RUU Omnibus Law saja misalnya, tidak semua buruh dan serikat buruh bisa kompak  bersikap, walau sama-sama menyatakan menolak model dari draf Omnibus Law khususnya Cipta Kerja yang dianggap hendak menjerat leher kaum buruh. Demikian juga derap langkah serikat buruh. Asyik main sendiri-sendiri.

Begitulah kesan balap karung dari berbagai elemen pergerajan di negeri yang tengah membangun ini, tak cuma infrastruktur saja, tapi juga bentuk dan model dari suprastrukturnya pun masih mencari bentuk. Jangan-jangan, pola gerakan berbagai elemen, aliansi dan koalisi itu sendiri memang sedang mencari bentuk juga, kalau pun tidak pas disebut sedang mencari sikap dan watak dari jati dirinya  yang sejati dan otentik.

Baca Juga :  Pandemi COVID-19 Merupakan Masalah Dunia Dimana Penanganannya Harus Dilakukan Bersama Dan Kolaboratif. ⁣ ⁣

Agaknya itu sebabnya kaum pelajar, mahasiswa, akademisi, pegiat sosial kemasyarakatan, beragam aktivis dari berbagai jurus dan bidang yang menjadi perhatiannya, sulit disatukan seperti gerakan kaum buruh dan serikat buruh. Bahkan kelompok dan faksi yang muncul terkesan semakin banyak, hingga makin sulit dipilih, mana yang otentik dan murni hendak berjuang memperbaiki kondisi dari kehidupan rakyat agar bisa lebih baik dalam arti kesejahteraan yang berkeadilan serta lebih beradab serta lebih manusiawi.

Realitasnya memang begitu. Meski tak pula sedikit kalangan mahasiswa dan aktivis lingkungan serta pegiat demokrasi maupun aktivis untuk hak-hak asasi manusia yang ikut berteriak lantang betapa bahaya Omnibus Law  Cipta Kerja bila terus dipaksakan hendak diberlakukan di Indonesia. Sebab Omnibus Law itu tak hanya mengobok-obok masalah buruh dan serikat buruh,  tapi juga banyak sektor dan bidang pekerjaan lainnya yang ikut diaduk-aduk dalam satu wadah atau bak dari dalam muatan bus itu.

Fenomena dari bertumbuhnya lembaga sosial kemasyarakatan menjadi semakin marak dan liar kesannya sejak reformasi tahun 1998.

Setidaknya,  wajah dari organisasi buruh pun cuma hitam dan putih saja adanya ketika itu. Karenanya SBSI (Serikat Buruh Sejahyera Indonesi) yang dipimpi  Muchtar Pakpahan menjadi sangat fenomenal, karena berani dan lantang melawan rezim Orde Baru.

Baca Juga :  Virus Corona Merebak, Jaksa Agung ST Burhanuddin Tantang Kejati se-Indonesia, Tetap Jalankan Tugas Persidangan Melalui Video Conference

Yang lain, ah belum ada yang berani tampil. Belakangan setelah reformasi baru muncul banyak organisasi termasuk serikat buruh. Maka itu sebelumnya ada istilah populer di kalangan buruh dunia itu yang disebut serikat buruh kuning dan serikat buruh putih. Inilah sebabnya pada tahun 2004 silam kawan-kawan aktvis dari berbagai bidang dan latar belakang berhimpun bersama Klinik Hukum Merdeka yang bermarkas di Komplek Bina Marga Kawasan jalan Pramuka Raya Jakarta melahirkan  forum diskusi setiap Kamis dengan mengundang beragam tokoh dari beragam disiplin ilmu maupun latar belakang profesi bahkan beragam latar ideologi. Meski sempat  ramai dan marak mendapat sambutan, toh rumusan dari kesan ingin terus melakukan balap karung tadi, justru thesisnya dikukuhkan Kang Benny Akbar Fatah dari forum ini juga, yang  terlahir dan dibidani oleh kawan-kawan di Klinik Hukum Merdeka tahun 2004 silam.

Itulah yang membuat saya kangen dan romantis berharap kebersamsaan dari kaum pergerakan bisa kompak. Bukan bernafsu ingin balap karung. Biarlah gairah balap karung itu cukup untuk sekedar memeriahkan perayaan tujuhbelasan saja. (Red/Aj)

Penulis : Beni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *