28, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

MAKHLUK HALUS

3 min read

WWW.BERITATERKINI.CO.ID
Berdiam di perut bumi, “Makhluk” tak kasat mata itu sering dianggap sebagai hantu penunggu.

Namun di kalangan ilmuwan, ia dikenal sebagai medan geopatogen yang bisa mengganggu kesehatan.
Biar tak mengganggu, dia perlu diberi “Sesajen” garam, jeruk dan kertas koran.

Diam-diam, kita punya musuh misterius yang sangat dekat dengan kita. Celakanya, lagi-lagi secara diam-diam, dia suka menyerang dan mengganggu kesehatan.

Badan rasanya tak enak padahal istirahatnya cukup, sendi-sendi tulang linu seperti menderita rematik, kejang kaki, atau susah berkonsentrasi.

Gawatnya lagi, dia pun bisa jadi biang kemandulan, menyebabkan impotensi bahkan tumor!
Tidak kasat mata, biasanya dia bersembunyi di bawah tempat tidur atau di sekitar rumah.

Degala gangguan itu bisa disebabkan oleh pengaruh medan elektromagnetik yang telah berlangsung lama.

“Aliran air bawah tanah yang lewat persis di bawah tempat tidur kita merupakan salah satu sumber medan geopatogen yang memancarkan gelombang elektromagnetik, di samping aliran dan peralatan listrik”.

Jadi secara sederhana bisa diartikan keadaan atau hal-hal yang berasal dari bumi, biasanya berupa radiasi gelombang elektromagnetik atau radiasi lainnya (di luar radiasi sinar-X), yang menyebabkan sakit.

“Medan itu muncul akibat perputaran bumi pada porosnya yang membuat planet bumi menjadi zona elektrostatis.
Belum lagi adanya tumpukan mineral tertentu di dalam bumi, menjadikan energi elektrostatis di suatu tempat semakin tinggi.

Kalau badan sudah tidak bisa menetralisasi pengaruh medan itu, orang yang selalu berada di bawah pengaruh medan ini akan mengeluh tidak enak badan, lekas lelah dsb.

Baca Juga :  Walikota Tangsel, Airin Perpanjang PSPB Rumah Ibadah, Toko dan Kios Di Perbolehkan Buka

Kalaupun diperiksa secara medis, tidak akan ditemukan penyebabnya.
Batas kemampuan manusia menerima pengaruh medan itu tanpa merasakan gangguan kesehatan apa-apa adalah 15.000 elektrovolt.

Sebetulnya fenomena medan geopatogen bukanlah barang baru.
“la sudah dikenal sejak dimulainya sejarah manusia”.
Bahkan nenek moyang kita pun sejak kapan-kapan sudah menangkap gejala alam yang tak kasat mata ini.

“Orang dulu itu ternyata pintar.
Leluhur kita telah memperkenalkan adanya tempat-tempat tertentu yang disebut atau dianggap wingit (angker), sangar dan entah apa lagi, namun sayangnya tanpa disertai keterangan yang jelas”.

Ingat musibah kebakaran Keraton Kasunanan Surakarta beberapa tahun lalu? Di reruntuhan puing sisa kebakaran ditemukan berkilo-kilo logam mulia atau emas.
Itu semua dipakai untuk memantek tiang-tiang bangunan istana.

“Emas, meskipun logam, itu ‘kan berfungsi menolak (gelombang) elektromagnetik.” Makanya istana raja-raja dulu tiang-tiangnya dipanteki dengan emas.

Buat kebanyakan orang, medan geopatogen yang memancarkan gelombang elektromagnetik itu justru sering ditangkap sebagai adanya Lelembut (makhluk halus) atau Hantu penunggu di suatu tempat.

“Yang tidak kalah penting adalah hampir semua peralatan modern menggunakan listrik, di mana listrik sendiri memancarkan gelombang elektromagnetik.
Kabel penghantarnya akan membawa serta gelombang elektromagnetik yang ada di sepanjang aliran”.

“Pada orang yang peka, pengaruh medan elektromagnetik ini ada yang langsung terasa, misalnya rasa dingin, kesemutan ataupun langsung timbul rasa pegal akibat spasme (kontraksi) otot.
Orang yang tidak peka mungkin tidak merasakan apa-apa.
Namun kalau proses berlangsung lama, maka akan muncul berbagai gejala seperti badan merasa tidak segar, tidur tak nikmat, kejang kaki, mudah sakit, gangguan sistem kardiovaskuler dan gangguan metabolisme, lalu gangguan pada sistem saraf pusat berupa sulit berkonsentrasi, gangguan hormonal berupa kemandulan atau impotensi, dan pada stadium akhir timbulnya tumor,”

Baca Juga :  WABAH PANDEMI GLOBAL COVID-19, TIDAK MENYURUTKAN EKSPOR KELAPA PARUT SUMUT KE CINA

Lalu bagaimana cara mengatasi musuh misterius tak kasat mata ini, jika benar ada aliran air di bawah tempat tidur atau ruang kerja?

“Salah satu caranya ya jauhi saja medan itu”.

Atau, kalau tidak mungkin menjauhi atau menyingkir, bisa dinetralisasi dengan kompensator berupa kumparan Tembaga yang dipasang di tempat tersebut untuk mengimbangi medan elektrostatis yang ada.

Cara lain yang sifatnya tradisional, mudah, dan murah adalah:

“Yakni dengan menaruh garam, jeruk sitrun, kertas koran di bawah tempat tidur.
Caranya, dua sendok garam ditaruh di lepek lalu jeruknya diletakkan di atasnya.
Sedangkan empat lembar kertas koran digelar di bawah kasur.
Setelah satu minggu, garam,jeruk dan kertas korannya diganti.

“Garam itu misalnya, kalau terurai akan menjadi Na dan Cl.
Nah, Air atau H2O dan Garam itu ‘kan saling meniadakan.
Na dengan OH dan Cl dengan H”.

Sedangkan kertas koran bermanfaat untuk mengisap radiasi radon dan ion-ion lain.
(Red/Aj)

Penulis : Boy Arsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *