29, November 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

TRAGEDI OKTOBER 2020, SENIN DILUMAT SIJAGO MERAH

4 min read

Prof. Dr. Ir. IP. Sudiarsa Boy Arsa, ST., MT., M.Arch. IAI., Ph.D.
(Guru Besar & Senior partner Universal Institute of Professional Management Singapura.

WWW.BERITATERKINI.CO.ID

Sebelum UU Omnibus Law diketok palu oleh DPR RI beberapa pihak yang merasa dirugikan telah menebar Hoax sebelumnya, yang lebih fatal lagi indikasi adanya rencana membuat situasi Chaoz saat UU Omnibus Law disahkan DPR RI, mereka tidak memikirkan (masa bodo) dengan Pandemik Covid-19 yang terjadi saat ini.

Situasi semakin tidak kondusif karena adanya indikasi beberapa politisi memamfaatkan situasi ini sebagai celah untuk mendulang keuntungan politik dengan cara menggelar Cabaret yang apik dan sempurna. Ada tokoh politik yang berperan sebagai “gentleman-cabaretier” dengan Monolog mocking the new law (monolog mengejek hukum baru), dilain pihak ada tokoh politik dengan peran sebagai sang protagonis bertepuk tangan, yang situasinya ibarat Political kleinkunst/ political Cabaret

Kleinkunst ini bertitik berat pada aktornya, character dan figurnya tetapi Narasinya irregular, sangat lemah dan hanya ditopang serial hoax.

Dengan adanya tragedi Oktobrer kelabu diharpkan tercapai Targetnya yaitu Pleasure of Catharsis by Aristotelis ( Aristotelian catharsis) yaitu Simpati Rakyat meroket pasca tragedy sehingga Outputnya Suara terdongkrak, Popularitas melambung dan outcamenya terjadi A renewal and restoration dari keterpurukan.

“Non-systemic opposition”(oposisi non sistemik) dimainkan yaitu kombinasi “a riot in the street and fight in Parliament” sehingga sampai terjadi tragedi Oktober Kelabu ditahun 2020 diiringi dengan terjadinya insiden yang salah satunya adalah pristiwa sebagian kavling pertokoan Senin dilahap sijago merah.

Sepertinya strategi Pleasure of Catharsis by Aristotelis ( Aristotelian catharsis) kurang sukses karena
masyarakat dijaman digital ini tidak bodoh akibat akses informasi yg mudah dan bebas, Publik menduga semua ini hanyalah performance. Wrestlemania-like showdown, dengan beredar dan viralnya Video politisi yang memperkeruh dan memamfaatkan situasi ini sebelumnya telah mendukung Omnibus Law di rapat kerja sampai sampai Fahri Hamzah sikritikus pedas menyindir Kalao mau Menolak UU Ciptaker semestinya sejak awal pembahasan bukan setelah final untuk disahkan.

Baca Juga :  Danlanal Banyuwangi Terima Kunjungan Tim Pokja Kodam V Brawijaya

Political kleinkunst (political Cabaret) sipolitikus gagal-total. Dengan kecerdasannya Publik mengetahui kalau hal itu hanyalah it’s just “political theater” alias “empty show.” A political gesture. Posturing. Grandstanding. Sound and fury. No genuine idea. Semata-mata hanya sebagai a play for power. Efek yang ingin diraih oleh politisi hanya bersifat “visceral” atau feeling, not intellectual. It’s a thrill.

Ibarat Developer membangun perumahan yang menginginkan keuntungan banyak dengan cara rekayasa rancang bangun yaitu membangun dengan casing baik tetapi struktur bangunanya dikurangi (padahal efesiensi biayanya tidak signifikan) akibatnya perumahannya ambruk sehingga mengalami kerugian yang sangat fatal, begitalah sang Arsitek politisi merancang Permainan Cabaret-Politik yang tidak mengkaji dengan detail Multiplayer efeknya akibatnya berbalik sehingga boomerang seperti berludah keatas yang ludahnya mengenai diri sendiri
Akibat dari Political kleinkunst, Netizens menuding godfather si Arsitek politikus ini yang mungkin tidak tau menau dianggap oleh Netizens sebagai “Bandar Demo”. Gawatnya lagi Aksi demo Massa yang terjadi pada hari Kamis (8/10/2020) tersebut bersifat vandalisme. Halte busway yang bagus & ruko di Senen dibakar serta Surabaya porak-poranda.

Setelah zaman reformasi Netizens menilai Tidak ada otak chaoz sekeji & sekejam ini selain demo yang sudah dirancang oleh Arsitek Demo penolakan UU Ciptaker hari kemis (8/10/2020) karena Mereka menggunakan anak STM dan Bocil-bocil sempai menyerang Aparat dan merusak public property .

Seperti karekter Sengkuni dalam epos cerita Mahabaratha, adanya indikasi beberapa politikus sebagai “Oposisi Salon” berperan menjadi cheerleaders. Kerjanya bersorak-sorak & menari di atas issue. Double-standard. Hipokrit. Pura-pura peduli Covid-19 tetapi secara tidak langsung mereka telah menciptakan kluster baru pandemi Covid-19 akibat ribuan kerumunan orang yang berdemo yang lost protokol kesehatan C-19.

Baca Juga :  Pos TNI AL Grajakan Fasilitasi Penyerahan Perahu Temuan Warga

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (purn) Muldoko memberi pandangan yang sekaligus sebagai sinyal bahwa Negara mempunya kalkulasi antara demokrasi & stabilitas, sesunguhnya para perusuh ngga punya legitimasi suara rakyat tapi hanya bermotif Kepentingan dan Arsiteknya hanya Haus kekuasaan.

Contoh dinegara Amerika saat kerusuhan karena meninggalnya seorang warga sipil akibat disekap polisi, Pemerintah AS bersikap bahwa Stabilitas Nagara adalah yang utama dan nomor satu. Prinsip Demokrasi berbangsa dan bernegara bukan berarti semau gue dan bebas menjarah. President Trump menurunkan “Federal Stromtroopers” (militer tanpa insignia) menggebuk rioters. Stabilitas adalah ruang inkubasi demokrasi. Dalam situasi genting dan mendesak demokrasi secara otomatis tidak akan berlaku seperti pada saat situasi anarkis.

Tragedi Oktober kelabu ini sesungguhnya adalah Duel perkelahian syaraf dua oligarkhi. Sama-sama oligarkhi. Yang satu berkuasa. Lainnya ingin berkuasa ibarat Oligarkhi kaya vs. Oligharkhi kere dan
Belum tentu oligarkhi yang sangat ingin berkuasa lebih baik dari yang sekarang.

Track record seorang politisi yang menjadi Arsitek Demo penolakan UU Ciptaker sehingga terjadi Tragedi Oktober 2020 Kelabu bisa dinilai bahwa politisi adalah seorang politisi yang mengidap penyakit Nietzsche’s morality of the slaves, yang sangat berbahaya dari efek penyakit ini adalah mereka akan melahirkan “Kakistocracy” yaitu sistem pemerintahan yang dioperasikan by the worst, least qualified, and most unscrupulous citizens.
(Sistem pemerintahan yang dioprasikan oleh warga yang paling buruk, paling tidak berkualitas, dan paling tidak bermoral.)

American poet (penyair Amerika) James Russell Lowell menyebut “Kakistocracy is for the benefit of knaves at the cost of fools”.(“Kakistokrasi adalah untuk kepentingan para bajingan dengan mengorbankan orang bodoh”.)

Suatu kondisi yang sangat menguntungkan para penipu diatas pengorbanan para pendukungnya yang go-block.

Redaksi : Aj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *