29, November 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

SANG GURU PENCERAH

2 min read

WWW.BERITATERKINI.CO.ID
Orang-orang yang bergantung pada akalnya saja, tak akan menemukan Allah, karena akal itu ciptaan Allah, bukan Allah, yang bisa menemukan Allah dan mampu menunjukkan Allah itu Allah sendiri, sebab tak ada kuasa melebihi kekuasaan Allah, tak ada daya upaya melebihi daya upaya Allah.

Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak di lampoi akan di capai oleh sesuatu yang tidak melampaui, makanya hidayah itu milik Allah, artinya yang bisa sampai kepada Allah karena menyerahkan diri pada bimbingan Allah dalam pencariannya, menyerahkannya dengan meredakan segala kehendak nafsu dan kekuatan alam ciptaan termasuklah akal kita itu juga ciptaan.

Orang-orang yang mengunggulkan akal dalam pencarian Allah itu akan menemukan jalan buntu, karena keterbatasan akal dalam kesanggupan menerima apa yang masuk akal saja, yang tak masuk akal akan di tolak oleh akal, padahal semua hal ghaib itu tidak masuk akal.

Baca Juga :  Polres Metro Jakarta Barat Gelar Rekontruksi Kasus Penganiayaan Kepada Anggota Polri

Akal hanya bisa menerjemahkan apa yang bisa di tangkap oleh indera, lalu mengirimkan ke dalam hati, dan hati yang akan memberi keputusan pada akal tentang yang di tangkap oleh indera, lalu akan akan mengirimkan lagi kesimpulan hati, di kirim ke lisan sebagai pendapat dan pandangan dan penilaian.

Makanya Rasulullah saw, mengatakan jika sagumpal darah itu buruk maka seluruh badan akan buruk semua, dan jika segumpal darah itu baik, maka akan baik seluruh anggouta badan, segumpal darah itu bernama HATI.

Jadi, baik buruknya kesimpulan, pendapat dan pandangan itu tergantung pada baik buruknya hati.

Orang yang tak pernah membersihkan hati sudah pasti kesimpulan pendapatnya tak akan pernah baik, akan selalu menyalahkan dan menghujad, akan selalu mencela dan menghina, akan selalu merasa benar dan paling hebat sendiri, jadi jika pandangan dan pendapat kita kok buruk, itu adalah petunjuk bahwa hati kita itu sakit dan buruk penuh nanah.

Baca Juga :  Kapolda Metro Jaya Tegaskan Tak Keluarkan Izin Terkait Aksi Demenstrasi Besok

Hati yang baik, jernih, mengalir kontinyu, di umpamakan oleh Nabi seperti sungai jernih yang mengalir, karena selalu di cuci dengan dzikir, maka bukan hanya akan mengeluarkan pendapat dan pandangan yang menyejukkan, tapi juga bisa mencerahkan dan menyegarkan menghilangkan dahaga bagi orang yang kehausan di gurun pasir kekeringan hidup dan banjir bandang problematika.

Bahkan baru memandang saja pada orang yang berhati bersih bening, mengalir umpama air terjun, jatuh ke dalam lembah nan hijau, akan menentramkan hati.

Jikakamu menemukan ulama’ atau kyai kok menyalahkan orang lain, maka dia itu belumlah bersih hatinya, hantinya masih di selimuti persaingan iri dengki, dan tak terima orang lain di depannya, dan orang itu masih terpaut dengan pujian dunia, karena terjerat oleh nafsunya. (Red/Aj)

Penulis : Boy A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *