27, November 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

BERGAINING INDONESIA DIMATA AMERIKA VS RUSSIA-CHINA

4 min read

By. Prof.Dr.,Ir. IP Sudiarsa Boy Arsa, ST., LLB., MT., M.Arch., IAI., Ph.D
(Guru Besar & Senior Partner Universal Institute of Professional Management Singapura)

WWW.BERITATERKINI.CO.ID,
Setelah menganalisa perkembangan dunia Ahli Strategi Pertahanan Nasional Amerika
(American’s National Defense Strategby /NDS) untuk sementara ditahun 2018 sampai sekarang masih memarginkan doktrin Bush (mantan Presiden AS ) yang terkenal dengan Bush-Doctrine yaitu “War On Terror” sehingga para Teroris didunia lebih rilex karena target utama American’s National Defense Strategby (NDS) lebih fokus pada “Great Power Competition” Yaitu Kompetisi Konflik Perang antara AS dengan Russia-China.dalam situasi seperti ini Indonesia memiliki posisi yang strategis oleh karena itu AS tidak malu malu mengundang Menhan Prabowo Subianto ke Pentagon.

Sejak berdirinya Republik Indonesia sampai sekarang Politik Luar Negeri Indonesia adalah Non Blok, dari kebijakan politik Non Blok ini Pemerintah Indonesia sangat berpeluang untuk memainkan peran yang sangat jitu dan strategis terhadap situasi komplik Amerika dengan Russia-China , aksi ambil untung yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia terhadap situasi itu tentu semata mata untuk kepentingan bangsa dan negara. Kedatangan Menhan Prabowo Subianto adalah untuk melayani kepentingan Indonesia (serves Indonesian interest.)

Strategi yang dilakukan Pemerintah Indonesia ini sangat tidak disukai oleh Domestic Globalist Ketidaksukaan Domestic Globalist bisa dikaji dengan adanya indikasi penyerangan urat saraf yang dilakukan oleh mereka dengan cara menggoreng Isu HAM, Jews proxy, Pengangguran elite, Aktifis NGO, berbagai gerakan dan aksi yang menyudutkan pemerintah dibayar oleh Lembaga Donor. Semua ini dilakukan agar terjadi Denigrasi Indonesia ditingkat global (denigrasi Indonesia on global level).

China-Russia adalah saingan Amerika sementara dilingkaran dalam Trump banyak dari kaum “globalis New York” ,(Trump’s inner circle “New York globalists”) kaum globalis New York ini menilai Amerika masih membutuhakan Cina dalam bidang bisnis dan perdagangan.

Baca Juga :  Tingkatkan Rasa MENYAMA BRAYA, AMERTA Bagi Sembako Kepada Keluarga Wayan Sudana.

Salah satu Senator Amerika “Chris Coons” mengatakan, “We must strive to co-exist, compete, and cooperate with China—Rusia and all three are possible (Kita harus berjuang untuk hidup berdampingan, bersaing, dan bekerja sama dengan China —Rusia dan ketiga negara mungkin saling membutuhkan)

Kompetisi Amerika melawan China-Russia sebuah cerita yang sangat rumit (complicated story).Dalam menghadapi Russia-China negara Amerika kelabakan dan kualahan selama 4 tahun. Karena itu Amerika telah merubah Strateginya karena didorong oleh krisis akibat salah strategi (The Crisis-driven need to change U.S. Strategy.) Amerika mengadopsi dictum-perang Carl von Clausewitz: yaitu perang adadalah kelanjutan strategi politik dengan caralsin (“War is nothing but a continuation of politics with the admixture of other means.”)

Russia & China mempraktekan strategi The Art of War karya sun Tzu yaitu ” Kemenangan terbesar adalah yang tidak memerlukan pertempuran. Menundukkan musuh tanpa berperang adalah puncak keterampilan.”
(Sun Tzu’s The Art of War: “The greatest victory is that which requires no battle. To subdue the enemy without fighting is the acme of skill.”)

Amerika menyadari kekelirunya yang hanya fokus pada “major wars”. Misreading & mis-interpretasi strategi & capability Russia-China.
Fatalnya USA ignored China & Russia yang bermain pada arena diplomasi & economic level sekaligus dimensi militer. America is indeed too stupid to understand.

Amerika gagal paham perang melawan China-Russia akan berakhir pada the use of nuclear weapons. Artinya “mutual assured destruction”. Sama-sama hancur. Zero sum game. Complete total Annihilation of mankind.

China-Russia tau betul pemenang kompetisi adalah pihak yang mengadopsi quote film War Games; “the only way to win is not to play.”

Maka China-Russia bermain di “gray-area” dan merilis “hybrid operations” yang bersifat non-military political & economic competition. Tapi ngga ragu masuk ke dalam unpredictable mixes & limited forms of military warfare.

Baca Juga :  Rusuh Demo Tolak UU Cipta Kerja, 5.918 Orang Diamankan, 240 Proses Pidana Dan 87 Orang Ditahan

Russia dengan santainya mencaplok Crimea dan baru-baru ini membombardir tiga camp terrorist di Syria & merilis powerfull air strikes ke Karabakh. Sementara Amerika tidak bisa apa-apa. Intervensi Amerika akan menyeret China masuk pertempuran.

Amerika hendak membentuk pendekatan kembali menghadapi taktik “wilayah abu-abu”. (reshape its approach menghadapi “gray area” tactics). Sebagai tambahan, Russia-China hanya menggunakan military power untuk mencari pengaruh dengan strategi membingkai “perang pengaruh”. Dan Perang hanya akan dilakukan jika Saat mereka menggunakan kekerasan,
( frame “wars of influence”. When they do use force), biasanya hanya bersifat demonstratif, covert operations dan menyokong kekuatan other states, non-state actors or factions.

Kondisi ini memaksa Amerika tidak hanya fokus menahan Russia-China. Operasi “multi-domain” di level sipil & merangkai aliansi dengan negara lesser power. Mengeksploitasi civil technology in hybrid & asymmetric ways. Karena itu Amerika mengapresiasi Indonesia dengan memberi visa Menhan Prabowo Subianto yang mewakili pemerintah.

Amerika menyadari kalau Indonesia berpihak kepada Russia-China maka Amerika semakin ambruk , karena itu Amerika sangat berkepentingan dengan Indonesia, harapan Amerika, Indonesia berpihak kepadanya setidak tidaknya bersikap netral dalam persoalan ketegangan AS dengan Russia-China

Sebagai negara non blok Sebaiknya Sesekali Indonesia mengatur irama relasi sedemikian rupa dengan kedua belah pihak ( AS dengan Russia-China). Jangan terus-terusan diperdaya oleh Paman Sam (Uncle Sam). Tetap berterimakasih dengan China yang selama ini sudah banyak mensuport, tetap jalin hubungan yang baik dengan ketiga pihak yaitu Russia-China, Indonesia, Amerika karena untuk saat ini kondisi ini adalah kondisi yang paling ideal.

Mereka yang mengkritik dan menyerang kedatangan Menhan Prabowo Subianto ke Amerika tujuannya adalah hanya ingin mempertahankan subordinasi posisi Indonesia di telapak kaki Amerika.

Redaksi : Aj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *