25, November 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

PETANI TRADISIONAL DAYAK: KEBERADAAN, TANTANGAN DAN PERLINDUNGAN

2 min read

DISKUSI PANEL SE-PULAU BORNEO
Dengan para pembicara dari MALAYSIA (Sabah dan Sarawak) dan INDONESIA (Kalimatan Utara, Timur, Tengah dan Barat,)

LATAR BELAKANG
WWW.BERITATERKINI.CO.ID,
Bagi masyarakat Dayak, perladangan atau sistem pertanian tradisional dengan pola gilir-balik (swidden agriculture),
bukanlah sekedar kegiatan teknis bercocok tanam padi atau sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan belaka, tetapi juga merupakan praktik kebudayaan dan religi.

Antropolog dari Institut Dayakologi, R Giring menyebutkan bahwa berladang merupakan cara hidup mempertahankan dan melestarikan benih-benih pangan asli. Berladang juga merupakan sarana untuk menghayati dan melaksanakan kehidupan religi, budaya, sosial serta ekonomi.

Dengan berladang, masyarakat merayakan kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, bersyukur berupa pesta padi. Jadi selain untuk memenuhi kebutuhan padi, beras, nasi sebagai makanan pokok, berladang juga melestarikan ikatan ritual spiritual petani dengan tanah & leluhurnya.

Tak heran bila ritual adat menyertai hampir seluruh tahap berladang.

Baca Juga :  Jadi Buronan, Djoko Tjandra Malah Terlihat Tunjukkan Diri di Medsos Seakan Remehkan Hukum Indonesia

Namun sangat ironis praktik hidup yang memuliakan tanah dan air itu mengalami banyak tantangan bahkan pelemahan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Iwan Pirous (Kompas 18/10/ 2016) berladang atau pertanian secara tradisional dianggap terbelakang bahkan oleh kalangan akademik. Dari perspektif ekonomi dianggap tidak efisien.

Hasilnya terlalu sedikit dibandingkan dengan luas lahan yang digunakan. Dari perspektif kehutanan, dianggap menyebabkan kebakaran. Dari perspektif studi pembangunan, terlihat berantakan, tidak cocok bagi wajah pertanian modern yang rapi terorganisir.

Dari perspektif legal-formal, potensial menyinggung batas-batas izin usaha konsesi. Desakan internasional terhadap bahaya asap turut memperkuat stigma terhadap kebudayaan ladang berpindah. Pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas untuk melarang peladang untuk membakar hutan.

Pandangan yang hitam-buram dan negatif itu membuat kehidupan peladang atau petani tradisional menjadi terabaikan, tak diperhitungkan sebagai bagian pemenuhan pangan nasional.

Pemeritah lebih tertarik dengan pertanian moderen yang serba mekanik namun tak ramah lingkungan juga tak ramah sosial dan budaya

Baca Juga :  Reorganisasi Berikan Kontribusi Positif Bagi organisasi

Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat adat yang tinggal di kawasan Heart of Borneo.

Mereka dapat menjadi kelompok rentan yang rawan terhadap pemiskinan struktural, dengan mudah dapat diposisikan sebagai kriminal perusak lingkungan hidup (pembakar lahan), dan yang paling menyedihkan akan diikuti dengan land grabbing yaitu perampasan akses dan pemanfaatan tanah atau lahan pertanian tradisional dari masyarakat adat untuk kemudian diserahkan kepada agen kapitalis nasional atau global.

Berkaitan dengan permasalahan di atas, Forum Masyarakat Adat Heart Of Borneo (FORMA-HOB) merasa perlu untuk mengadakan Webinar melalui aplikasi zoom dengan tema Petani Tradisional Dayak: Keberadaan, Tantangan dan Perlindungan. (Red/Aj)

BAGI YANG BERMINAT IKUT SILAKAN MENDAFTAR SECARA ONLINE MELALUI LINK BERIKUT: https://bit.ly/2H4ahel

Penulis ‘ Boy A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *