2, Desember 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

ONE MAN SHOW MENIMBULKAN TRAGEDI KAUM MINORITAS

4 min read

Prof. Dr. Ir. IP. Sudiarsa Boy Arsa, ST., LLB., MT., M.Arch., IAI., Ph.D. (Guru Besar & Senior Partner Universal Institute of Professional Management California and Singapura)

WWW.BERITATERKINI.CO.ID,
Panas setahun dihapus oleh hujan sehari akibat efek kejut one man show, beberapa hari yang lalu hampir semua channel Televisi Nasional menyuguhkan tontonan yang isi beritanya menceritakan tiga anak orang kaya yang sedang Jogging disalah satu jalan protokol yang ada di Bali dengan pengawalan mobil polisi bersirine, situasi ini termasuk pristiwa minor action karena seorang Presiden Jokowi saja sebagai orang nomor satu di Indonesia tidak bersikap seperti itu.

Minor action ini adalah Berita konyol yang dianggap langka dan mengebohkan karena itu pemberitaannya diputar beberapa hari oleh beberapa channel TV baik Pagi, siang, sore maupun malem. Dengan status sebagai WNI keturunan dan juga pernah menghisap cocaine ditoilet, ulah Si-Jogger ini menimbulkan terjadinya multiplier effect yang merugikan kaumnya, dalam kasus Jogging Go-block ini selain merugikan WNI Keturunan Tionghoa juga merugikan aparat Polisinya yang mengawal karena kena sanksi dari institusinya. Yang membuat aneh dan jadi sorotan publik dalam kasus ini adalah Joggernya Tidak kena sanksi padahal kejadian itu adalah “It takes two to tango ” Mestinya kena sanksi juga.

Dengan adanya peristiwa minor action ini beberapa pihak tertentu memanfaatkan situasi ini untuk aksi ambil untung dengan berbagai cara diantaranya membuat Narasi dengan cepat dan sedemikian rupa untuk dijadikan Issue hangat karena telah digoreng.

Issue yang paling hot dan seksi yang diledakan adalah “Tionghoa memperalat aparat dan memperbudak pribumi” Sehingga terjadilah Tragedi Minoritas akibat Efek Kejut One Man Show, sehingga Tionghoa yang tidak tau menau yang kena getahnya.ibarat menyiram akar pada tanaman semua bagian tumbuhan yang lain menerima nutrisinya.

Black-Leader W.E.B Du Bois berucap
“The problem of the Twentieth Century is the problem of the color-line,”(Masalah Abad Kedua Puluh adalah masalah garis warna).

Mengamati dari statusnya Si-Jogger cs adalah rich people sehingga dianggap menjadi contoh perilaku Golongan The Haves. Inilah Problem sosial yang terjadi di Indonesia dengan adanya Gap (kesenjangan) antara orang Kaya dengan orang Miskin sehingga terjadi malapetaka bagi kaum minoritas dengan cara dibuatkan issue Rasialis dan konflik kelas seperti contoh kalimat “Tionghoa peralat aparat & memperbudak pribumi”. Itu semua terjadi karena ulah Si-jogger.

Baca Juga :  *Menteri PPN Ikuti Rapat Tingkat Menteri Membahas Persiapaan Pelaksanaan Vaksin*

Kata Karl Marx “The history of all hitherto existing society is the history of class struggles” (Sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas).

Mengaburkan dan menghalangi “Class Struggle” menjadi “Race Conflict” adalah upaya Capitalist untuk tetap mempertahankan dominasi kekayaannya. Tidak jauh berbeda dengan Modus kaum Zionist.

Tokoh penting Zionist Israel “Moses Hess” menulis epilogue “Rome and Jerusalem”. Menurut Moses, “the race struggle is primary” (perjuangan ras adalah yang utama ).

Mempersamakan kelakuan Si-Jogger sebagai karakter Tionghoa disebut hasty over-generalization fallacy (kesalahan generalisasi berlebihan yang terburu-buru).

Dari segi ilmiahnya kalau Menarik kesimpulan secara general yang hanya berdasarkan satu contoh tidaklah valid dan juga tidak bijak.

Sama seperti kalau kita mengatakan; all great composers die young. Contohnya Mendelssohn mati usia 38.

Or Mozart, just 35. Schubert di usia 31 tahun. Sedangkan Bach, Beethoven, Brahms etc yang meninggal-dunia di usia tua tidak disebut.

Tokoh WNI keturunan “Kyai Haji Jusuf Hamka” Kepala Suku Tionghoa, orang kaya, Low profile bersahabat dengan Anies Baswedan, Habib Rizieq dan Ustad Zaitun Rasmin.

Beliau juga Suka makan di Warung Tegal contoh tokoh minoritas lainya Chen Ji Ying alias Chandra Suwono Glodok business mogul bersama dengan Ng Lili Kader Partai Gerindra membagikan makanan gratis setiap sore selama 4 bulan pada awal terjadinya pandemi Covid-19.

Semua perilaku baik dan normal WNI keturunanTionghoa mendadak lenyap dan menghilang begitu saja hanya karena perilaku satu orang saja yaitu Si-Jogger yang juga WNI keturunan Tionghoa juga, Ibarat panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

Little added information; salah seorang anak dari Kartini Muljadi adalah sahabatnya situkang kritik pemerintah yang sekarang mati suri yaitu Fadli Zon.

Baca Juga :  Pemerintah Indonesia Akan Tingkatkan Kerjasama Dengan World Food Programe (WFP) Dalam Menjalankan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Menstigma WNI keturunan Tionghoa akibat perilaku konyol anak orang kaya disebut “Racialization”.

Menurut Marxist sociologist Robert Miles, “Rasialisasi” adalah proses where people are categorized falsely into the scientifically defunct notion of distinct ‘races’(proses dimana orang-orang mengkategorikan secara salah dalam gagasan ilmiahnya tentang ‘ras’ adalah sesuatu hal yang berbeda).

Menurut saya, “Racialization” adalah capitalist tool to create differences to undercut the existent cultures of solidarity antara pribumi dan Tionghoa (Alat bagi kaum Kapitalis untuk menciptakan perbedaan guna melemahkan budaya solidaritas yang ada antara pribumi dan Tionghoa).

Antagonisme rasial is artificially kept alive. Diintensifikasi by the press, the pulpit, the comic papers, in short, by all the means at the disposal of the ruling classes (Antagonisme rasial secara artifisial dibiarkan hidup dan Diintensifikasi oleh pers, mimbar dan bacaan komik, singkatnya kaum/kelas kapitalis menggunakan segala infrastruktur yang ada dan dengan menggunakan segala cara.

Persis seperti moduz English aristocrats and capitalists against Ireland (modus Kapitalis dan Aristokrat Inggris dalam melawan Irlandia)
yang sudah diceritakan Karl Marx.

Orang Inggris dan Irlandia Sama-sama pekerja namun mereka diadu domba, sengaja dipecah belah (No unity) sehingga mereka saling membenci, pekerja Inggris membenci pekerja Irlandia ( English worker hates Irish worker), pekerja Irlandia Dianggap sebagai kompetitor yang merendahkan standard hidup pekerja Inggris, pekerja Irlandia (Irish worker) merasa dibuat sebagai bagian bawahan dari the ruling nation yaitu Inggris serta diijadikan alat memperkuat dominasi aristocrats dan capitalists English atas Irlandia.

Penyulut rasis Anti-Tionghoa adalah akibat minor action anak-anak orang kaya seperti Si-Jogger yang berjogging dengan pengawalan ala pejabat negara disalah satu ruas jalan protokol di Bali, peristiwa ini digoreng dengan apik dan dijadikan sebagai alat oleh kaum kapitalis untuk mengaburkan masalah dengan target terjadinya Perpecahan & disharmoni antara Pribumi-Tionghoa , dengan situasi seperti ini hanya akan menguntungkan the ruling class (kelas kapitalis).

Redaksi : Aj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *