29, November 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

American Story “Are Not Alike” Sama Tak Serupa

6 min read

by: Prof. Dr. Ir. IP. Sudiarsa Boy Arsa, ST., LLB., MT., M.Arch., IAI., Ph.D. (Guru Besar & Senior Parther Universal Institute of Professional Management California & Singapura)

WWW.BERITATERKINI.CO.ID
Presiden Donald Trump saat rapat terbuka (on rally) dengan sangat pulgar menyatakan dukungan penuh kepada Presiden Prancis Macron dan Ibu Negara untuk melawan terorisme di Prancis (support France Macron & his first lady against terrorist). Dia sukses memainkan “injury-time politics”. Mengkapitalisasi pembunuhan Samuel Paty (The murder of Samuel Paty) menjadi “Islamophobia”. dengan harapan terealisasinya Supermasi kulit putih (White supremacist), Kristen Fundamentalis (Fundamentalist Christian) dan sileher merah (red necks).

Dahlan Iskan & Mardigu Wowiek adalah dua proxinya yang ada di Indonesia masih kampanye & berdoa (praying) agar Trump memenangkan pemelihan Presiden AS yang berlangsung kemarin.

Gedung Putih (Trump’s White House) tidak melanjutkan perannya yang sudah dianggap tradisi oleh dunia (traditional role) sebagai mediator yang piawai dan cekatan (honest broker) terhadap Konflik antara Palestina-Israel. Perjanjian ( agreement) Camp David 1978 dan Oslo 1993 yang merupakan maha karya Amerika yang sukses menjadi penengah.

Trump administration menyokong penuh Israel.

Memindahkan duta besarnya (US Embassy) ke Jerusalem dan memangkas pendanaan kepada organisasi PBB untuk pengungsian Palestina (funding UN organization for Palestinian refugees- UNRWA).

Sementara itu Joe Biden sangat ingin mengisolasi North Korea. Berbeda dengan pendapat Trump yang ingin dengan cara pendekatan damai (peaceful approach).

Artinya China akan kesulitan apabila Joe Biden menjadi Presiden, yang lebih Konyol lagi Trump bermanuver antipati kepada China dengan cara menggunakan isu rasis saat berkompetisi dengan Beijing.

Menurut Polling, Masyarakat Israel lebih memilih Trump dibandingkan dengan Joe Biden yaitu rasio perbandingan antara 50% dengan 21% suara. Fridman Duta Besar AS (US ambassador) mengungkapkan rencana Biden mendekati Iran (Biden’s approach to Iran) yang membahayakan bagi Israel dan negara negara Teluk (Gulf states) serta membuka kembali kesepakatan nuklir Iran pada tahun 2015 silam yang dikenal dengan JCPOA akan membuka lembaran baru bagi Iran untuk mendapatkan senjata Nuklir kembali, sesuai dengan kata Fridman “The 2015 Iran nuclear accord known as the JCPOA had created a path for Iran to get a nuclear weapon,”.

Joe Biden dipastikan akan memerangi terrorisme kembali sesuai dengan komitmen dan aikon presiden pendahulunya yaitu bush. Timur Tengah (Middle east) kemungkinan akan bergejolak lagi.

Seperti di Era Obama. Lebih aktif menguatkan milisi Kurdi Suriah & Pro Barat Turkey untuk menumbangkan Erdagon (Syrian Kurdish militia & Turkish Pro West subvert Erdogan).

Setelah Gedung Putih menganalisa Kebijakan Erdagon yang lebih pro ke Russia, misalnya seperti Turkey membeli senjata rudal S-400 kepada Russia (Policy wait-n-see. Erdogan pro Putin/. Russia after Turkey bay S-400 missile system) Trump tidak pernah pusing untuk mengurus Turkey.

Pembelian S-400 oleh Turkey kepada Rusia dianggap melanggar Undang Undang yang diterapkan Amerika karena Turkey bekerjasama dengan musuh Amerika karena itu Turkey harus kena sanksi dari Amerika (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act). Trump mengancam akan memberi sanksi kepada Turkey, sementara itu Erdogan membalas dengan rencana aktivasi S-400 missile system.

Baca Juga :  Korban Covid-19 Meningkat Gemass Lacona Desak Walikota Palembang Untuk Bersikap Tegas

Ankara dan Moscow tegang di Idlib yaitu tempat sebagai markas kubu pembrontakan terakhir Suriah (Syria’s last rebel stronghold).

Erdogan ingin membuat Idlib sebagai zone aman yang dilindungi oleh zone larangan terbang (safe zone protected by a no-fly zone) untuk menjadi tempat perlindungan ISIS fighter’s family dan berfungsi sebagai kanal exodus baru sehingga refugee ngga masuk Turkey.

Selama Turkey dipimpin oleh Erdagon, Amerika tidak akan pernah mau membantu.

Pada saat Putin mempermalukan Erdogan di Moscow dengan membuatnya menunggu lama di depan kamera televisi, Erdagon tidak banyak protes karena Turkey membutuhkan bantuan Putin untuk menahan agresifitas Paman Sam (Uncle Sam).

Saat pilpres AS tahun 2016 kemenangan Trump karena ada bantuan Putin dan Xi Jin Ping namun Trump seperti kacang lupa dengan kulitnya, Trump termasuk kategori pemimpin yang tidak bisa dipegang (tidak komit) salah satu contoh kebijakan Trump yang merugikan Russia adalah dengan menjual senjata canggih ke Ukraine untuk melawan Russia. Ibarat Air susu dibalas dengan air Tuba.

Proposal Amerika kepada Russia untuk mengurung China dengan “sanitary fence” ditolak Moscow. Putin malah puji China mengendalikan Covid-19 spread sebagai tindakan yang konsisten dan efektif (consistent and effective actions).

Menteri Luar Negeri Russia menolak (dismissed) kritikan yang dilakukan Amerika terhadap China yang dianggap “groundless” dan “unacceptable.”
“Are Not Alike”

by: Prof. Dr. Ir. IP. Sudiarsa Boy Arsa, ST., LLB., MT., M.Arch., IAI., Ph.D. (Guru Besar & Senior Parther Universal Institute of Professional Management California & Singapura)

Presiden Trump dengan sangat pulgar saat rapat terbuka (on rally) menyatakan dukungan penuh kepada Presiden Prancis Macron dan Ibu Negara untuk melawan terorisme di Prancis (support France Macron & his first lady agains terrorist). Dia sukses memainkan “injury-time politics”. Mengkapitalisasi pembunuhan Samuel Paty (The murder of Samuel Paty) menjadi “Islamophobia”. dengan harapan terealisasinya Supermasi kulit putih (White supremacist), Kristen Fundamentalis (Fundamentalist Christian) dan sileher merah (red necks).

Dahlan Iskan & Mardigu Wowiek adalah dua proxinya yang ada di Indonesia masih kampanye & berdoa (praying) agar Trump memenangkan pemelihan Presiden AS yang berlangsung kemarin.

Gedung Putih (Trump’s White House) tidak melanjutkan perannya yang sudah dianggap teradisi oleh dunia (traditional role) sebagai mediator yang piawai dan cekatan (honest broker) terhadap Konflik antara Palestina-Israel. Perjanjian ( agreement) Camp David 1978 dan Oslo 1993 yang merupakan maha karya Amerika yang sukses menjadi penengah.

Trump administration menyokong penuh Israel. Memindahkan duta besarnya (US Embassy) ke Jerusalem dan memangkas pendanaan kepada organisasi PBB untuk pengungsian Palestina (funding UN organization for Palestinian refugees- UNRWA).

Sementara itu Joe Biden sangat ingin mengisolasi North Korea.

Berbeda dengan pendapat Trump yang ingin dengan cara pendekatan damai (peaceful approach).

Artinya China akan kesulitan apabila Joe Biden menjadi Presiden, yang lebih Konyol lagi Trump bermanuver antipati kepada China dengan cara menggunakan isu rasis saat berkompetisi dengan Beijing.

Baca Juga :  Viral, PFI Mengecam Komentar Musisi Anji Soal Foto Jenazah Covid-19

Menurut Polling, Masyarakat Israel lebih memilih Trump dibandingkan dengan Joe Biden yaitu rasio perbandingan antara 50% dengan 21% suara.

Fridman Duta Besar AS (US ambassador) mengungkapkan rencana Biden mendekati Iran (Biden’s approach to Iran) yang membahayakan bagi Israel dan negara negara Teluk (Gulf states) serta membuka kembali kesepakatan nuklir Iran pada tahun 2015 silam yang dikenal dengan JCPOA akan membuka lembaran baru bagi Iran untuk mendapatkan senjata Nuklir kembali, sesuai dengan kata Fridman “The 2015 Iran nuclear accord known as the JCPOA had created a path for Iran to get a nuclear weapon,”.

Joe Biden dipastikan akan memerangi terorisme kembali sesuai dengan komitmen dan aikon presiden pendahulunya yaitu bush. Timur Tengah (Middle east) kemungkinan akan bergejolak lagi.

Seperti di Era Obama. Lebih aktif menguatkan milisi Kurdi Suriah & Pro Barat Turkey untuk menumbangkan Erdagon (Syrian Kurdish militia & Turkish Pro West subvert Erdogan).

Setelah Gedung Putih menganalisa Kebijakan Erdagon yang lebih pro ke Russia, misalnya seperti Turkey membeli senjata rudal S-400 kepada Russia (Policy wait-n-see. Erdogan pro Putin/. Russia after Turkey bay S-400 missile system) Trump tidak pernah pusing untuk mengurus Turkey.

Pembelian S-400 oleh Turkey kepada Rusia dianggap melanggar Undang Undang yang diterapkan Amerika karena Turkey bekerjasama dengan musuh Amerika karena itu Turkey harus kena sanksi dari Amerika (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act). Trump mengancam akan memberi sanksi kepada Turkey, sementara itu Erdogan membalas dengan rencana aktivasi S-400 missile system.

Ankara dan Moscow tegang di Idlib yaitu tempat sebagai markas kubu pemberontakan terakhir Suriah (Syria’s last rebel stronghold).

Erdogan ingin membuat Idlib sebagai zone aman yang dilindungi oleh zone larangan terbang (safe zone protected by a no-fly zone) untuk menjadi tempat perlindungan ISIS fighter’s family dan berfungsi sebagai kanal exodus baru sehingga refugee ngga masuk Turkey.

Selama Turkey dipimpin oleh Erdagon, Amerika tidak akan pernah mau membantu. Pada saat Putin mempermalukan Erdogan di Moscow dengan membuatnya menunggu lama di depan kamera televisi, Erdagon tidak banyak protes karena Turkey membutuhkan bantuan Putin untuk menahan agresifitas Paman Sam (Uncle Sam).

Saat pilpres AS tahun 2016 kemenangan Trump karena ada bantuan Putin dan Xi Jin Ping namun Trump seperti kacang lupa dengan kulitnya, Trump termasuk kategori pemimpin yang tidak bisa dipegang (tidak komit) salah satu contoh kebijakan Trump yang merugikan Russia adalah dengan menjual senjata canggih ke Ukraine untuk melawan Russia. Ibarat Air susu dibalas dengan air Tuba.

Proposal Amerika kepada Russia untuk mengurung China dengan “sanitary fence” ditolak Moscow.

Putin malah puji China mengendalikan Covid-19 spread sebagai tindakan yang konsisten dan efektif (consistent and effective actions).

Menteri Luar Negeri Russia menolak (dismissed) kritikan yang dilakukan Amerika terhadap China yang dianggap “groundless” dan “unacceptable,”(Red/Aj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *