DENPASAR, beritaterkini.co.id | Permasalahan daging jika dibiarkan terus berlarut-larut akan menjadi penyebab inflasi nasional. Apalagi ketahanan pangan nasional terpuruk dan terbukanya potensi varians virus baru Covid-19.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua LSM Jarrak Bali, Made Ray Sukarya meminta pemerintah membijaksanai pengiriman hewan ternak, minimal babi yang hingga saat ini, belum terkena PMK, namun kondisinya malah betul-betul menjerit.

Bahkan, Ray Sukarya menyoroti kebijakan pemerintah yang terkesan tumpang tindih, padahal pemerintah pusat sudah mengeluarkan kebijakan yang menyatakan, bahwa Bali sudah masuk Zona Hijau, lantaran hingga kini Bali sudah bebas PMK.

Pada intinya, Ray Sukarya menyuarakan dan menampung aspirasi peternak hidup yang hewan ternaknya, seperti babi dan sapi tidak bisa dikirim keluar Bali.

“Kebijakan itu kayak tumpang tindih, kalau masuk kesini okelah super ketat. Ini kenapa yang hidup ngk boleh, tapi yang beku boleh. Kalau ngk boleh, ya ngk bisa semua,” tegas Ray Sukarya di Denpasar, Sabtu, 13 Agustus 2022.

Harus diketahui, bahwa ada dua pasar babi, yaitu pasar lokal dan pasar luar Bali. Biasanya pasar luar Bali inilah yang diisi pemain ekoran atau pengiriman hidup.

“Jangan sampai, karena kebijakan yang tumpang tindih mengakibatkan semua pemain babi melemparkan babinya di pasar lokal. Bisa dibayangkan bagaimana nanti hancur leburnya harga babi,” jelas Ray Sukarya.

Perlu diingat juga, bahwa selama ini keberpihakan pemerintah terhadap peternak babi sama sekali tidak ada, terbukti waktu virus ASF melanda Bali.

“Satu hal lagi, yang mampu bertahan di masa Covid-19 adalah peternak babi salah satunya,” paparnya.

Oleh karena itu, jika kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut, Ray Sukarya khawatir kondisi ini akan menambah biaya pakan bahkan ongkos kerja akan semakin meningkat. Akibatnya, petani atau peternak mengalami kerugian hingga menembus angka milyaran rupiah.

“Itu aduan petani ternak yang biasa jualan hidup keluar, karena sudah terlalu lama ternaknya berada di kandangnya, yang menyebabkan kebutuhan pakan ternak semakin meningkat
bukan mereka menjadi untung malah kerugian yang didapat,” pungkas Ray Sukarya. (KS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here