3, Desember 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

EPOS OPOSISI DABLEK (HALLUCINATIVE OPPOSITION)

4 min read

WWW.BERITATERKINI.CO.ID,
Prof. Dr. Ir. IP. Sudiarsa Boy Arsa, LLB., MT., M.Arch., IAI., Ph.D. (Guru Besar & Senior Pather Universal Institute of Professional Management Singapura)

Pemerintahan Jokowi-Amien adalah pemerintah yang legitimate berdasarkan hasil kemenangam Pemilu yang sudah dilaksanakan secara democratic, pemerintahan Jokowi- Amien Semakin kuat setelah Prabowo Subianto yang diiringi faksi loyalis mayoritasnya (Gerindra Specialists opposition think-tanks) merapat dan bergabung kemerintah.

Fisikiwan Teoritis dan Kosmologi dari Inggris Stephen Hawking berucap “One of the basic rules of the universe is that nothing is perfect. Perfection simply doesn’t exist. Without imperfection, neither you nor I would exist,” (Salah satu aturan dasar alam semesta adalah tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan tidak ada. Tanpa ketidaksempurnaan, baik Anda maupun saya tidak akan ada).

Begitu pun dengan Pemerintahan Jokowi-Amien untuk saa ini pemimpin paling kompeten diantara yang kompeten dinegeri ini, yang sudah tentu lebih baik dibanding opposition party & contra-groupings. Pe-rong-rong di parliament ga cerdaz. Blunder trus. (partai oposisi & kelompok kontra, Perongrong di parlemen, tidak bijak dan terus melakukan kekeliruan.)

Habis manis sepah dibuang, seperti meremes parut buah kelapa untuk dicari kandungan minyaknya lalu ampasnya dibuang itulah indikasi tujuannya membela buruh yg diperalat untuk kepentingannya yaitu dengan Theatrical pro buruh, namun telah diketahui oleh masyarakat yang saat ini sudah cerdas, tindakan dan strateginya Kasar dan brutal memakai metode dan acara clapping-hands yang membuat masyarakat kesal.

Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai, itulah ibarat pergerakan Para Oposisi swasta turun kejalan (on the street) dengan maksud mendapat simpati masyarakat tetapi yang didapat malah membuat rakyat marah karena pergerakan yang dilakukan para oposisi swasta bersifat Anarkis sehingga terjadi Vandalisme dimana mana. Strategi yang dilakukan oleh kaum oposisi yang beberapa waktu lalu melaksanakan deklarasi ini, tidak mengkaji epek negatif saat situasi Indonesia bahkan dunia dilanda Pandemic Corona ditambah lagi mempengaruhi dan mengajak orang orang berdemo, Alhasil 123 mahasiswa yang ikut demo positif Covid-19. Yang paling mengerikan saat menggerakan bocil-bocil (generasi muda harapan dan tunas bangsa) untuk berdemo, mungkin itulah dosa terberat yang ditanggung oposisi swasta kepada rakyat dan bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Agus Fatoni : Bantuan Alumni IPDN Sebagai Bentuk Kepedulian Sosial

Oposisi swasta ini lebih tepat dikatakan “Oposisi dablek” karena tidak bisa membedakan antara mengkritik dengan menghujat padahal para oposisi swasta itu banyak kaum cendikiwan dan pakar pakar.

Karena ditutupi oleh sahwatnya Mereka tidak bisa membedakan Garis tipis antara kritis dengan nge-hoax (karena keduanya beda tipis). Cilakaknya lagi mereka tidak merasa bersalah bermanuver seperti menghina presiden yang merupakan Simbul Negara, Hatespeech, nyebar hoax, bully, rasis, fitnah, caci-maki dan ngebohong karena mereka anggap semua itu syah- syah sebagai kelakuan oposisi. Mereka berprinsip “Sing penting beda dengan penguasa”.

Kelakuan ini masuk kategori Nietzsche’s morality of the slaves. Moralitas budak. Triggernya rasa sirik-dengki.

Opposition leaders dan their hallucinative activists hidup di ivory tower (Pemimpin oposisi dan aktivis halusinatif mereka hidup di menara gading).

Gemar Masturbasi. Asyik sendiri, Crootz sendiri, Mengira rakyat bodoh Padahal rakyat tidak terlalu suka menilai kelakuan oposisi Halusinatif apalagi Negara dan dunia lagi susah karena diserang Corona virus, tetepi oposisi halusinatif mengambil sikap aksi ambil untung dengan ngaiz political advantages.

Baca Juga :  Heni Suhaeni Mantan Pramugari Garuda Membagikan Masker Kain dan Nasi Kotak

Oposisi halusinatif dan amatiran ini tidak pernah konsisten pada karena mereka berstatemen pada Bulan September mengatakan pemerintah antek komunis, lalu Bulan Oktober nuding pemerintah kapitalis pro-cukong sehingga masyarakat dan Orang cerdas yang waras heran; Sebenarnya mereka itu tidak memahami secara bijak apa itu anti regime sehingga asal sudah ngomong dan berbeda pendapat dengan pemerintah, melontarkan kritikan yang tidak konstruktif yaitu kritikan yang tidak memberi solusi yang membuat Rakyat semakin kesal dan antipati

Dengan tindakan dan strategi ini Oposisi semakin tidak memiliki legitimasi. Berusaha berulang kali mempertontonkan sifat munafik. Berkoar koar Mengklaim diri sebagai Gerakan Moral namun mereka tidak bermoral yang sesungguhnya kalau dikaji kesemua itu tujuannya adalalah hanya sebuah Gerakan Politik, Lalu ada indikasi memprovokasi massa untuk mengajak rusuh dengan cara membakar toko & rumah dengan harapan terciptanya kemelut politik didalam negeri.

Seandainya Slave’s morality-cum-subterranean revengeful mania (Mania balas dendam moralitas-cum-gerakan bawah tanah, perbudakan) dan penyuka paha perempuan ini dibiarkan berkuasa maka mereka akan menciptakan “kakistocracy” yaitu sistem pemerintahan yang dioperasikan by the worst, least qualified, and most unscrupulous citizens. (warga yang paling buruk, paling tidak berkualitas, dan paling tidak bermoral).

Penyair American James Russell Lowell menyebut “Kakistocracy is for the benefit of knaves at the cost of fools”.(Kakistokrasi adalah untuk kepentingan para mafia dengan mengorbankan orang lugu dan bodoh).
Yang artinya Sebuah kondisi yang menguntungkan para penipu diatas pengorbanan para pendukungnya yang lugu dan go-block.

Redaksi : Aj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *