21, Oktober 2020

Berita Terkini

Bersama Membangun Bangsa-Kritis, Faktual dan Independen

BELAJAR DARI SEJARAH, PEDIHNYA BERPISAH PERKAWANAN KARENA IDEOLOGI ATAU PERSEPSI

7 min read

Oleh : Prof. Dr. Ir. H. Koesmawan AS, M.Sc., M.BA., DBA (Guru Besar ITB Ahmad Dahlan Jakarta)

Pada Kamis, 11 Juni 2020

(Suny-Siah, Pakistan-Hindustan, dan NU-Muhammadiyah)

JAKARTA, WWW.BERITATERKINI.CO.ID | Maaf tulisannya panjang, sisihkan waktu agar tak gagal paham dan agar ada mqnfaatnya

Sejarah kehidupan manusia berputar terus, sehingga kisah persaudaraan atau pertemanan yang sudah lama berlangsung, harus berpisah karena perbedaan yang sangat keras, sehingga sulit dicari titik tengah atau titik temunya. Kisah perpisahan perkawanan banyak dalam sejarah, tapi saya ambil tiga saja yang saya hafal ceritanya, walaupun ini adalah juga versi Koesmawan sebagai penulisnya, tak usah kaget bila orang lain bercerita, mungkin berbeda dengan postingan ini.

Ada tiga kisah mau saya posting disini: (a) Kisah berbedanya Suni dan Shiah. (b). Kisah berpisahnya Pakistan dari Hindustan (India), (c) Kisah berbedanya NU dan Muhammadiyah. Dua hal yang Koesmawan tonjolkan disini yakni (1). Argumen Berpisahnya itu, kuat dan masuk akal. Maksudnya, tak ada istilah, pokoknya pisah (2). Perpisahan itu, terus ada hingga kini, bahkan hingga hari kiamat, kemungkinan besar, tetap eksis, (3). Apa konsekuensi atau dampak dari pisah perkawanan itu (4). Solusi-solusi seperti apa yang sangat positip untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Saya heran kepada ayah kandung saya almarhum, mengapa saya sekolah di ITB, sekolah ke insinyuran, harus belajar sejarah, ternyata, hasil pembicaaraan saya dengan Drs Bachrum Rangkuti, Sekjend Depag tahun 1975, kata beliau ilmu sejarah itu adalah (a) Ilmu tentang masa lalu, segala hal hal yang relevan tentang masa lalu dicatat dan dipahami, mengapa terjadi, apa motifnya dan apa konsekuensinya, (b) Ilmu masa kini. Berdasar apa yang dicontoh pada masa lalu, dikerjakan sekarang. Kesalahan diperbaiki, hal yang sudah baik dikembangkan kearah hal yang lebih baik lagi. (c). Ilmu tentang masa depan.

Antisipasi apa yang akan terjadi dimasa depan sesuatu, ;problem apa yang akan timbul dan skenario apa yang harus kita susun agar tujuan tercapai. Melalui skenario, bisa diperkirakan cara mengatasinya. Ternyata, sejarah itu penting sekali bagi apapun profesi saudara. Jika anda alumni insdinyur, pasti ada sejarah perkembangan teknologi. Jika saudara belajar ilmu ekonomi, pasti ada sejarah pemikiran- pemikir ekonomi. Bila anda kuliah di Fakultas Kedokteran, pasti ada sejarah ilmu kedokteran.

SUNNY-SHIAH

Sewaktu Rasulullah SAW wafat, terjadi selisih pendapat tentang siapa pengganti beliau. Ada dua pendapat. Pertama, sesuai dengan ajaran Rasul (sunnah Rasul), maka harus diadakan pemilihan secara terbuka. Siapapun boleh memilih, nanti yang terbanyak sebagai pengganti Rasul, yakni sebagai kalifah, pemberi putusan dan pemberi nasehat. Inilah yang selanjutnya disebut Kaum Sunah, selanjutnya disebut Sunny. Kelak ini akan banyak di Indonesia, Malaysia, Brunei, Mesir, pokoknya di sebagian besar Umat Islam, ajaran kaum Sunny lebih dominan.

Pendapat kedua, “ harus keluarga nabi” atau Ahlul Bait. Kelompok ini disebut Shiah, artinya Pendukung Ahlul Bait. Adapun Shiah, terbesar di Iran, lalu Irak, Pakistan. Di negara lain, selalu ada hanya sedikit,. Termasuk di Indonesia, saat ini paling sedikit. Pada awalnya, perbedaan ibadah Sunny-Shiah tidak kelihatan, tapi ketika dominan di Iran, maka Kitab Al Qurannya berbeda, Nabi-nabi serta kisah kisah berbeda, sehingga, jangan heran ada kisah versi Shiah.
Apa yang menarik hati saya membahasnya, ialah, argumen-argumen yang memang kuat. Kaum Sunny jelas bahwa, ketika Rasululloh wafat, maka ikuti anjuran beliau agar demokratis. Pilihlah yang dianggap terbaik oleh semua pihak. Sementara Shiah berpendapat, belum waktunya berbuat demokratis bebas seperti itu. Mengapa? Kan mayoitas umat islam saat itu, kurang terdidik, maka lebih baik pegang hadis nabi sbb, “ Bila aku ini ilmu, maka Ali adalah kuncinya”. Ini suatu sinyal dari Nabi SAW bahwa Ali-lah yang tepat melanjutkan kepemimpinan Nabi SAW. Itu argumennya, adapun akibat selisih ini, konsekuensinya ialah, saling berperang antar saudara muslim.

Baca Juga :  ANGGOTA KOMISI III DPR-RI ADDE ROSI KHOERUNISA MENGUNJUNGI LAGI MASYARAKAT PANDEGLANG DAN LEBAK

Sehingga dari empat sahabat nabi, hanya Abubakar R.A yang meninggal biasa. Adapun tiga sahabat, Usman bin Affan RA. Umar bin Khatab dan Ali Bin Abu Thalib, semua gugur, dibunuh karena perbedaan pendapat tadi Sunny dan Shiah. Hingga akhir ini, ada ISIS (Islamic State Irak dan Suriah), juga mengandung pertentangan Sunny Shiah. Padahal yang bermain bukan ideologi lagi, tetapi upaya pabrik senjata di Amerika dan Rusia yang berlomba menjual kepada kaum muslimin yang berperang. Sungguh pedih membaca sejarah ini.

PAKISTAN -HINDUSTAN

Pakistan dan Hindustan atau Pakistan dan India, semula hanya ada satu negara yakni India, yang mayoritas beragama Hindu, sehingga disebut Hindustan. Setelah berhasil memerdekakan diri dari Ingggris, maka para pejuangnya, antara lain Mahatma Gandhi bermusayawarah untuk membangun negara Bersama antara Umat Muslim dan Umat Hindu. Nah saat musyawarah itu, terjadilah dialog yang mengharukan antara Mahatma Gandhi (Hindu) dan Ali Jinnah (Muslim). “ Wahai Ali Jinnah, apakah kamu bersedia kita berada dalam satu negara tetapi saling menghargai antar Muslim dan Hindu, sehingga bisa bergantian jadi pemimpin negara satu ini, India”.

Rupanya, kaum Muslimin, merasa tidak mungkin bersatu dalam satu negara yang mayoritas muslim, bagaimana kita menentukan hukum. Maka Ali Jinnah berkata, “ Kami sudah mantap, kita berpisah’. Maka meneteslah air mata Mahatma Gandhi berdirilah dua negara yang semula bersaudara kini terpisah India dan Pakistan. Keduanya sangat berwibawa karena memiliki Pabrik Nuklir dan senjata Nuklir. Selanjutnya, kaum muslimin itu yang semula Pakistan Barat dan Pakistan Timur, pecah juga dengan melalui peperangan menjadi Bangladesh. Kurang paham saya, apakah dasarnya Sunny-Shiah. Semoga ada yang bisa menjawab. Apa alasan bangkladesh memisahkan diri.

NU dan MUHAMMADIYAH

Semula umat islam di Indonesia hanya satu saja, tidak ada aliran, apakah berupa ideologi ataukah organisasi, sebutlah NU dan Muhammadiyah. Maaf saya menyederhanakan menjadi dua, karena yang lain boleh dikata, mirip. Misalnya; Persis dan Al Irsyad, mirip Muhammadiyah. Lalu, Assyafiiyah. Al Hamidiyaah, mirip NU. Alasan apalagi yang membuat jadi sederhana?. Alasan lain ialah, sumbangannya kepada pergerakan, sejak zaman dulu hingga akhir-akhir ini, untuk kepentingan politik, maka selalu disebut NU dan Muhammadiyah.

Seolah menjadi “:Syarat”. Siapapun presiden di Indonesia, harus membawa anggota atau tokoh NU dan Muhammadiyah menjadi Menteri. Sehingga seperti ada konvensi, misalnya NU untuk mentri agama atau mentri lain. Muhammadiyah untuk mentri Pendidikan dan Sosial. Adapun kementrian lain, tak perlu membawa nama itu, cukup dipandang keahliannya. Tentu saja unsur pembagian politik karena dukungan, itulah fatsun politik.
Bagaimana di dunia ini bisa terjadi ada NU dan Muahmmadiyah. Alkisah pada awal abad kedua puluh, pergilah tiga orang bernama Ahmad ke Mekah untuk belajar ilmu, yakni Ahmad Dahlan. Ahmad Hasan dan Ahmad Syurkati. Ketiganya mempunyai ide sama yakni pemurnian ajaran islam. Karena, ajaran Islam ini telah terkontaminasi oleh penyakit TBC. Kependekan dari Tachayul, Khurafat dan Bid’ah. Tahayul, contoh awas jangan berdiri ditengah pintu, pamali kata orang tua. Khurafat, gunakan cincin ini, maka gadis gadis cantik semacam LM, CT dan NM akan tertarik oleh cincin ini. Serta Bid-ah. Melebih-lebihkan ajaran.

Baca Juga :  MENGATASI MASALAH EKONOMI DENGAN LANGKAH NON-EKONOMI

Mau sholat cukup niat dalam hati, ya ditambah Usholi. Subuh, cukup seperti biasa, rakaat kedua, pake Doa Qunut. Jumat. Adzan dua kali, itu semua melebih lebih lebihkan. Itu semua BID’AH. Bidah itu sesat, dan yang sesat itu masuk neraka. Demikianlah dihembus hembus supaya berkelahi antar sesame muslim. Padahal pesan nabi, sesama muslim itu bersaudara dan damaikanlah antara keduanya. Apa yang dibawa tiga Ahmad itu?. Ternyata pemurnian Islam, atau Purifikasi ajaran agama islam. Jargonnya ialah, “ Kembali ke Al Quran dan Sunnah” . Itu berasal dari Sumber Utamanya, Ibnu Thaimiyah. Ironisnya, kuburan Ibnu Thaimiyah yang purifikasi ajaran islam, kini malah dipuja puja orang.

Ketiga Ahmad itu mendirikan organisasi yakni Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) turunannya Amien Rais-Ketua MPR, Ahmad Hasan (PERSIS) turunannya Yusril Ihrza Mahendra-Mentri Hukum dan HAM dan Ahmad Syurkati (Al Irsyad) turunannya Anies Baswedan-Mendiknas, Gubernur DKI. Para Ulama lain yang berbeda pendapat berpendirian agar, “ kita patuhi ulama terdahulu yang hebat, yakni empat ulama yaitu Syafii, Hanafi, Hambali dan Maliki”. Umat Islam tidak usah buat sendiri mazhab atau pendirian, karerna belum semua pinter, seperti zaman Shiah dulu, sudah DUKUNG saja ULAMA atau Nahdatul Ulama, maka muncullah NU, kelak menurunkan Abdurahman Wahied- Presiden RI-Ketua NU.

Solusi apa yang dimainkan orang-orang terpelajar, agar NU dan Muhammadiyah, cukuplah berbeda dalam ibadah, tetapi bersatu dalam muamalah. Dibuatlah solusi sbb: agar terjadi penjatahan, Mentri Agama NU, Mentri Pendidikan Muhammadiyah. Agar jaga mulut, jangan ada kata-kata yang menyakitkan satu pihak. Misalnya, “ jauhi tukang bidah”. Ini bisa menyakitkan. Lebih baik cari hal hal yang bisa diterima kedua pihak. Misal, kalau air banyak, berwudulah mirip Muhammadiyah. Kalau air kurang berwudulah mirip NU.

Salat Taraweh, ada yang bergerak hingga delapan rakaat, berjamaah. Yang mau sebelas, teruskan witir tiga rakaat di rumah. Yang mau 23 rakaat, hayu teruskan. Kisah Buya Hamka dan Idham Khalid yang melegenda. Buya Hamka jadi Imam Subuh, pake qunut. Geger sudah. “ Buya Apakah Muhammadiyah sudah berubah jadi pake qunut. Jawab Buya, “ Saya ingin menghargai warga NU”. Besoknya dibalas Idham Khalid, “ Subuh Salat tak pake qunut”. Selesai salat malah tersenyum, “ Kok NU gak pake qunut”. Ahirnya, semua tersenyum kemenangan semua pihak.

Ada lagi kalimat yang menyenangkan semua pihak. K.H. Hasyim Mujadi, ketika warga MU Jawa Timur, melihat bulan, sehingga lebarannya bareng dengan Muhammadiyah. Wartawan bertanya, “Pak Kyai, kapan lebaran NU pak”. Dengan senyum, “ Kami ikut Muhammadiyah saja”. Senang amat Warga Muhammadiyah mendengarnya, padahal mereka tahu, karena Warga NU sudah lihat bulan. Tapi KH Hasyim Mujadi pandai sekali memilih kata-kata.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan statement sbb “ Kejahatan itu terjadi, bukan disebabkan oleh para penjahat yang hebat hebat, Tapi, disebabkan oleh diamnya orang-orang pinter yang bisa meredam kejahatan”. Demikian halnya, jika perbedaan pendapat menjurus menjadi pertentangan bahkan hingga perang saudara, bukan karena adanya para penjahat, akan tetapi disebabkan diamnya orang-orang terpelajar yang bisa menghapus atau meredam pertentangan dengan akal budinya. Kesinilah tulisan ini dibuat agar bisa dimanfaatkan untuk persatuan bangsa. Semoga bangsaku semakin jaya. Redaksi/Danu

Editor ; Eno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *